RADAR SURABAYA - Saking ramainya tamu yang menginap di Hotel Flores, Surabaya, Moch Achijat berencana untuk membuka hotel lagi dengan konsep bungalow di Juanda, Sidoarjo.
Achijat telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk hotel keduanya.
Menurut cucu Moch Achijat, Alki Kiraamim, kakeknya telah menyiapkan hotel khas Indonesia.
Hotel tersebut rencananya bernama Surabaya Airport Hotel dan Motel Internasional Juanda.
Keinginan mendirikan hotel di Juanda, sebagai perluasan dari Hotel Flores yang ada di Surabaya. Hotel yang akan dibangun lebih luas dari Flores.
"Kakek saya ketika itu ingin membangun motel semacam bungalow. Ketika itu beliau menyesuaikan dengan anjuran mantan Menteri Perhubungan Frans Seda untuk usaha yang akan dibuat yakni hotel berkonsep asli Indonesia," ujar Alki kepada Radar Surabaya.
Sampai ketika itu, lahan hotel itu sudah mendapatkan rekomendasi dari Bupati Sidoarjo. Achijat hanya mencari kredit di bank untuk pembangunan hotel.
"Meski sebelumnya waktu rencana pembangunan Hotel Flores kakek saya tidak diberi kredit oleh bank karena dianggap orang bumiputera yang mempunyai ekonomi lemah. Tapi beliau begitu gigih dan tidak menyerah dalam mencari kredit pinjaman untuk pembangunan hotel keduanya," terangnya.
Achijat juga membuat surat penawaran harga peralatan mebelair untuk kamar, ruangan tamu, bar, restoran, kantor dan lain-lain untuk pembangunan Surabaya Airport Hotel dan Motel Internasional Juanda di tahun 1973.
Rencananya dalam hotel tersebut terdapat 12 unit kamar, ada 4 kamar tidur yang beruang tamu.
Kemudian perlengkapan bar, restoran dan lobi. Kemudian ada coffee house.
"Jadi kakek saya telah mengajukan penawaran harga untuk pembangunan Airport Hotel dan Motel Internasional Juanda seperti 12 unit kamar, bar, restoran, lobi, ada juga coffee house, perlengkapan mebel untuk kantor dan front office, kemudian mebel untuk dapur, perlengkapan kamar ganti, pakaian untuk pegawai hingga ada toko suvenir," ujarnya.
Alki mengaku jiwa bisnis Moch Achijat memang sangat luar biasa. Meski hanya berpendidikan terakhir kelas II Madrasah Ibtidaiyah namun bisa sukses menjadi pebisnis. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari