RADAR SURABAYA – Bagi warga Surabaya pasti sudah tidak asing mendengar nama Alun-Alun Contong.
Nama tempat ini memang menjadi salah satu landmark di Kota Pahlawan.
Meskipun kini hanya berupa persimpangan jalan dengan monument, tidak seperti Alun-Alun pada umumnya, namun dahulu Alun-Alun Contong pernah menjadi Alun-Alun dan pusat kegiatan warga.
Alun-Alun Contong merupakan salah satu tempat bersejarah yang ada di Kota Surabaya.
Pada zaman dahulu fungsi dari Alun-Alun Contong adalah taman yang tengahnya ada monumen tugu putih.
Monumen tersebut merupakan penghargaan terhadap masyarakat berkembangsaan Jerman, G. Von Bultizingslowen atas jasa-jasanya sebagai relawan Palang Merah saat perang Aceh 1873-1874.
Karena dokter Jerman itu berjasa pada waktu Hindia Belanda dan dibuatkan monumen atau patung.
Akan tetapi keberadaan monumen tersebut sekarang ini sudah tidak ada.
Alun-Alun Contong sendiri berada di antara Jalan Pahlawan, Jalan Gemblongan, Jalan Baliwerti, dan Jalan Kramat Gantung.
Pada era klasik, atau masa Kerajaan Majapahit, Alun-Alun Contong masih menjadi bagian dari Kawasan Keraton Surabaya.
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, awalnya memang ada tugu di Alun-Alun Contong dan di bangun sekitar abad ke-19, yang dibuat untuk penghargaan terhadap warga berkebangsaan Jerman bernama G. Von Bultizingslowen atas jasa-jasanya.
Bangunan tugu itu, kebetulan bentuknya agak kerucut, sehingga orang Jawa menyebut Contong.
"Memang dari awal bangunan tugu berbentuk contong dan orang Jawa menyebut Contong," kata Nur Setiawan.
Menurut Nur Setiawan, untuk pergantian patung atau monumen di Alun-Alun Contong sudah dua kali dilakukan.
Namun pada tahun 1942 atau 1944 tugu itu dibongkar oleh tentara Jepang. Karena menjadi simbol kalau Belanda sudah kalah.
"Akhirnya semua tugu peninggalan Belanda di bongkar oleh tentara Jepang, termasuk monumen atau patung di Alun-Alun Contong itu hilang sekitar tahun 1942 atau 1944," terangnya.
Nah, ketika Republik Indonesia berdiri dan sudah masuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tahun 1960-an, Wali Kota Surabaya saat itu Moerachman ingin membangun tugu tani di area Alun-Alun Contong.
"Jadi bekas monumen tadi dibangun tugu tani, namun tidak jadi. Karena Moerachman ini teraviliasi oleh partai Merah. Selain itu juga kebetulan ada peristiwa G30S PKI," jelasnya.
Setelah peristiwa G30S PKI Kawasan itu langsung dipegang oleh Kodam Brawijaya dan dibangun monumen atau tugu perjuangan pada tahun 1970-an.
Monumen itu untuk mengenang dari peristiwa 10 November yang banyak berjatuhan korban dan bertumpah darah.
Akan tetapi posisi monumen atau patung tersebut digeser ke utara sekitar 10 meter.
Sehingga jika dilihat dari arah utara ke selatan langsung terlihat patung tersebut.
"Jadi monumen ini sebagai penginat banyak peristiwa yang terjadi di masa lampau yang seharusnya masyarakat tidak bisa melupakan begitu saja. Meskipun lewat di monumen itu bisa mengheningkan cipta sebentar. Karena banyak peristiwa di sana," tutupnya.
Di sekitar Alun-Alun Contong dulu juga berdiri bangunan-bangunan penting dan megah.
Kini kawasan tersebut menjadi kawasan niaga, dimana di sekitarnya banyak pertokoan. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari