Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SEJARAH Hotel Flores Surabaya Milik Letnan Moch Achijat, Memiliki 10 Karyawan dengan Gaji Rp 160 Ribu per Bulan

Rahmat Sudrajat • Rabu, 28 Agustus 2024 | 01:35 WIB
TERKENAL: Iklan Hotel Flores pada saat itu yang dimuat di surat kabar.
TERKENAL: Iklan Hotel Flores pada saat itu yang dimuat di surat kabar.

RADAR SURABAYA - Letnan Moch Achijat mengembangkan bisnis Hotel Flores dengan menggunakan uang pribadi.

Menurut Alki Kiraamim, cucu Letnan Moch Achijat, kakeknya tersebut semasa hidupnya tak pernah mau menerima uang pensiun.

Sehingga dia harus mencari dana kredit namun mengalami kebuntuan karena tidak di ACC oleh perbankan ketika itu.

"Semasa hidup almarhum kakek saya sama sekali tidak pernah dan tidak mau menerima uang pensiun sebagai tentara. Untuk merintis Hotel Flores memang menggunakan dana pribadi dan mencari kredit ke perbankan namun sering gagal," kata Alki kepada Radar Surabaya.

"Akhirnya tetap menggunakan uang pribadi untuk mengembangkan Hotel Flores tersebut," imbuhnya.

Alki menyebut, selain pengembangan Hotel Flores, Achijat juga harus memikirkan gaji karyawannya yang berjumlah 10 orang.

Ketika dulu, gaji karyawan Hotel Flores terbilang besar. Setiap bulan karyawan menerima gaji Rp 160 ribu.

"Karyawan Hotel Flores dulu digaji Rp 160 ribu per bulan. Dengan total ada 10 karyawan," tuturnya.

Meski demikian, pengeluaran biaya operasional hotel memang sebanding dengan biaya pemasukan.

Karena banyak tamu yang hampir setiap hari menginap di hotel tersebut. Alki mengaku hotel kakeknya tidak pernah sepi dan selalu ramai.

"Nggak pernah sepi dari tamu, setiap hari ramai tamu hotel yang menginap. Buktinya juga kakek saya terus mengembangkan hotel ini, membangun terus dan terus di-update apa saja yang kurang selalu ditambahkan ke hotel ini," jelas Alki.

Untuk menarik tamu hotel, dulu Achijat juga sudah berinovasi untuk memasang reklame di tepi jalan.

Pemikiran visioner ini diterapkan Achijat sebagai bagian dari marketing hotel, meski dulu hotel tersebut juga sudah ada tim marketing-nya.

"Plang reklame Hotel Flores dulu tahun 1960-an. Tepatnya di kawasan Gubeng Pojok (saat ini) terdapat reklame tentang Flores. Mungkin ketika itu dipilihnya memasang di Gubeng karena berdekatan dengan Stasiun Surabaya Gubeng. Sekaligus tempat ini juga strategis sehingga mudah dibaca dan diketahui orang mengenai Hotel Flores," tuturnya.

Meski terbilang hotel yang ramai, namun Alki mengaku ketika hendak menginap di Hotel Flores harus ada pra syarat bagi tamu hotel yakni wajib menunjukkan buku nikah jika yang menginap dua orang berbeda jenis kelamin.

"Jadi kalau mau nginap di Hotel Flores harus menunjukkan buku nikah untuk mengetahui pasangan suami istri yang sah," pungkasnya. (bersambung/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#karyawan #Surabaya Kota Lama #Moch Achijat #Hotel Flores Surabaya #sejarah Surabaya