Letnan Moch Achijat merupakan pejuang 1945 yang ketika itu tergabung dalam Batalyon 516.
Pria yang asli Surabaya sebelum berbisnis hotel, dia memang terkenal sudah menjadi pebisnis sejak zaman Jepang.
Rahmat Sudrajat/Wartawan Radar Surabaya
Bahkan dari riwayat sejarah keluarga, sudah menguasai perdagangan di Pasar Turi.
Ketika itu Achijat sudah 15 tahun berdagang sepeda dengan jenis merk sepeda seperti Gazella hingga Homber. Ketika itu dia sudah memiliki 30 unit dengan berbagai merk.
Tak hanya itu, dia memang terkenal kreatif dalam mengelola bisnisnya. Bahkan dia juga merancang mode sepedanya yang bermerk Rally dengan emas di berbagai tempat, bahkan di depan merk juga terdapat sebuah berlian.
Menurut cucu Achijat, Alki Kiraamim, kakeknya bahkan sudah mempunyai jam tangan atau arloji merk Mido.
Saat zaman Jepang jam tangan itu hanya ada tiga buah saja. Tentu harganya setara dengan sebuah mobil bermerk Toyota Corona.
Sehingga Achijat memang sudah menjadi orang kaya jauh sebelum dia mempunyai Hotel Flores.
"Jadi kakek dan nenek saya ini juga sudah berada sejak sebelum punya hotel ini. Kakek saya sudah berbisnis sebelum punya hotel juga," kata Alki kepada Radar Surabaya.
Karena seringnya bepergian keluar negeri, Moch Achijat pun ingin mempunyai hotel sendiri dengan bergaya sesuai dengan keinginan sendiri. Rumah berbentuk segitiga itu akhirnya menjadi hotel yang identik.
"Semua dipikir sendiri, bahkan blue print-nya di buat sendiri oleh kakek saya," tuturnya.
Hotel Flores juga mempunyai kenangan manis bagi artis, turis mancanegara hingga bagi para pejabat.
Bahkan tempat tersebut sering menjadi pertemuan rapat rahasia dalam menentukan kepemimpinan.
"Ya karena dulu memang di Hotel Flores ini aman tempatnya jadi sering kali pejabat pejabat mengadakan rapat khusus di tempat ini," jelasnya.
Menurut Alki, Moch Achijat juga sering mengadakan pertemuan silahturahmi bersama dengan rekan-rekan sesama pejuang.
"Kakek saya kan memang orangnya suka bergaul jadi sering ngadakan silahturahmi kecil-kecilan di hotel," pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari