Letnan Moch Achijat bisa dibilang piawai dalam mengelola bisnis perhotelan di Surabaya. Meski tak mempunyai basic sekolah perhotelan, hanya seorang pejuang kemerdekaan yang mempertahankan Surabaya dari tangan penjajag. Namun Achijat mempunyai naluri bisnis yang otodidak.
Rahmat Sudrajat/Wartawan Radar Surabaya
Dia juga menjadi konseptor dalam pembangunan sekaligus pengembangan hotel.
Dari mulai empat kamar menjadi 17 sampai, dengan 25 kamar dengan tiga lantai. Tepatnya di tahun 1980-an ke atas.
Menurut cucu Moch Achijat, Alki Kiraamim, hampir seluruh pengelolaan hotel dipegang langsung Achijat.
Bahkan sanak keluarga juga dilibatkan menjadi pegawai hotel untuk bagian manajemen serta bagian tertentu seperti kepala koki hingga bagian interior.
"Awal berdiri memang untuk bagian manajemen dari keluarga. Seperti bagian kepala koki, interior serta yang jaga disel," tutur Alki kepada Radar Surabaya.
Bahkan, Hotel Flores juga menjadi penghidupan bagi warga sekitar kawasan Flores seperti kawasan Bagong yang lokasinya berdekatan dengan hotel tersebut.
"Di Flores, itu tinggal nggak hanya ditinggali keluarga inti, pegawai, keluarga kakek dan nenek yang kerja di Flores juga ada. Dan dampaknya juga kepada masyarakat sekitar, khususnya dari Bagong," tuturnya.
Selama berdirinya Hotel Flores, pembangunan pun juga hampir setiap saat.
Jika dirasa kurang maka akan dilakukan penambahan. Bahkan pernah dilakukan renovasi hotel.
Pekerja atau tukang yang dipekerjakan untuk melakukan renovasi merupakan pekerja yang sudah paten bekerja di Hotel Flores.
"Ya jadi apa pun yang diperlukan oleh kakek saya misalnya penambahan hingga renovasi tukangnya sudah siap dan itu sudah harus siap kapan pun diperintah oleh kakek saya untuk melakukan perbaikan serta penambahan untuk hotel," ungkapnya.
Tahun 1969, Achijat bercita-cita melakukan penambahan bus untuk akomodasi hotel.
Namun tidak kesampaian. Hanya mobil untuk tamu saja yang tersedia untuk antar jemput tamu.
"Rencana kakek saya mau nambah bus untuk antar jemput tamu hotel tahun 1969 tapi belum kesampaian," pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Nofilawati Anisa