RADAR SURABAYA - Usai kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan, tak semua daerah di pelosok negeri mendengar kabar kemerdekaan ini. Seperti di Surabaya.
Untuk memperingati kemerdekaan RI dengan mengibarkan bendera merah putih (vlaggenactie).
Pegiat sejarah Surabaya Nur Setiawan memgatakan, pengibaran bendera merah putih itu dilakukan oleh mahasiswa fakultas kedokteran di Gedung Pemerintahan Jepang Syuchokan atau sekarang Kantor Gubernur Jawa Timur.
Agar tidak diketahui oleh Jepang, bersama dengan Ninggolan seorang agen polisi yang turut bersama mahasiswa kedokteran gigi mengibarkan bendera merah putih hasil dari penyusunan kain-kain merah dan putih.
"Tanggal 19 Agustus para mahasiswa kedokteran gigi dan seorang agen polisi Ninggolan mengibarkan bendera merah-putih di gedung gubernur, tepatnya pucuk gedung," kata Nur.
Lebih lanjut dia menjelaskan, pengibaran ini terlambat karena tidak semua masyarakat mengetahui tentang kemerdekaan Indonesia telah diumumkan.
Bahkan para aktivis (mahasiswa kedokteran) pun membacakan teks proklamasi bersama dengan pejabat terkait dengan bahasa Madura untuk mengelabuhi tentara Jepang yang mayoritas bisa berbahasa Indonesia.
"Selain pengibaran bendera, juga pembacaan teks proklamasi dibacakan ulang dengan menggunakan bahasa Madura untuk mengelabuhi Jepang," terangnya.
Pembacaan teks proklamasi dengan bahasa Madura tersebut memang dipilih para pemuda dan pejuang di Surabaya dan sekitarnya agar aman dari pantauan tentara Jepang.
Sekaligus menyampaikan kepada masyarakat luas tentang kedaulatan kemerdekaan Indonesia.
Selain di Gedung Kantor Gubernuran pengibaran juga dilakukan di Gedung SMK St Louis 1 Surabaya.
Menurut Nur gedung tersebut dulu menjadi markas Tokubetsu Kaistsu Tai atau Polisi Istimewa.
"Pengibaran bendera juga dilakukan di SMK St Louis 1 Surabaya," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari