RADAR SURABAYA – Jalur Lintas Trem Surabaya adalah nama yang diberikan kepada sejumlah jalur trem yang melewati perkotaan Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur.
Surabaya adalah salah satu kota yang banyak meninggalkan sejarah kejayaan trem.
Peninggalan tersebut berupa bangunan stasiun, halte, depo, tiang listrik aliran atas, rumah dinas hingga jalur yang terendam di bawah aspal.
Lantas bagaimana sejarah panjang jalur trem lintas Surabaya tempo dulu? Berikut penjelasannya!
Surabaya memiliki jalur trem pertama kali pada tahun 1886 berupa trem uap. Jalur ini dibangun 5 tahun setelah pemerintah VOC meresmikan jalur trem uapnya di Batavia (Jakarta).
Kemudian, perusahaan yang sama yakni NV. Oost Javanische Stoomtram (OJS) Maatschappij membuat trem listrik untuk menyesuaikan perkembangan teknologi transportasi dan diresmikan pada tahun 1923.
Trem uap memiliki panjang rel kurang lebih 50 km, rutenya menghubungkan dari Ujung (Pelabuhan Tanjung Perak) di utara hingga Wonokromo di selatan kota, dan dilanjut menuju ke Krian di perbatasan Mojokerto.
Sedangkan trem listrik memiliki panjang lintasan mencapai 36 km, dengan jalur utamanya dirombak yang sebelumnya melewati tepian Kalimas akhirnya dialihkan melalui tengah kota, melewati Pasar Turi dan Sawahan serta mengikuti jalan protokol tengah kota, yaitu Jalan Raya Darmo.
Seiring diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949, pengelolaan trem uap dan trem listrik kemudian diambil alih oleh DKA (Djawatan Kereta Api), BUMN yang dibentuk pemerintahan republik.
Pada zamannya trem menggerakkan perekonomian kota. Para buruh yang umumnya tinggal di luar kota, sangat bergantung pada trem untuk mencapai tempat kerjanya.
Pada tahun 1927, sekitar 11,4 juta orang tercatat menggunakan trem listrik dan 5,2 juta yang menggunakan trem uap.
Trem secara tak langsung juga ikut memindahkan pusat kegiatan ekonomi Surabaya dari Kawasan Jembatan Merah pindah ke utara Tunjungan.
Namun kemunduran mulai terjadi pada akhir tahun 1960-an seiring dengan masifnya mobil-mobil buatan Jepang masuk ke Indonesia.
Pada tahun 1968-1969, trem listrik dihentikan operasinya. Kabel listrik aliran atas yang memayungi jalur trem ini dicabut dan jalur-jalur cabangnya sebagian juga dicabut.
Sejak tahun 1970-an, trem Surabaya dinyatakan tidak lagi beroperasi karena kalah bersaing dengan mobil pribadi, angkutan umum, serta banyaknya penumpang gelap yang menyebabkan kebocoran pendapatan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api).
Maka pada tahun 1978, seluruh jaringan trem uap di Surabaya resmi ditutup, dan berakhirlah riwayat trem di Kota Pahlawan.
Saat ini, Surabaya hanya menyimpan jejak sejarah dari keberadaan trem uap dan listrik yang pernah berjaya dan berjasa melayani arus transportasi lintas kota selama hampir satu abad.
Banyak tiang-tiang pantograf di tepian jalan Surabaya yang masih berdiri kokoh setelah lebih 50 tahun tak dialiri listrik.
Lalu terdapat bangunan besar seperti gudang dengan dinding beton yang dahulu adalah tempat dimana trem-trem itu menjalani perbaikan.
Bangunan yang bertuliskan “ANNO 1913” itu adalah tempat peristirahatan kereta uap jika sudah "kelelahan" merayapi jalanan Surabaya hingga batas kota.
Namun demikian masih banyak lagi jejak sejarah yang ditinggalkan trem lawas di Kota Pahlawan ini. (bel/mag/jay)
Editor : Jay Wijayanto