Pemberlakuan tanam paksa sejak 1830 memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan industri modern di Surabaya.
Fajar Yuliyanto-Wartawan Radar Surabaya
Perkembangan industri modern ditandai dengan pabrik-pabrik gula di masa itu mulai beralih menggunakan tenaga mesin demi meningkatkan kapasitas produksi. Sehingga permintaan akan mesin-mesin produksi pun meningkat.
Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika menuturkan, perkembangan industri modern di Surabaya semakin pesat seiring dengan diterapkannya Undang-undang Agraria pada tahun 1870 yang membuka peluang bagi swasta untuk berinvestasi.
Perkembangan industri pada masa sistem tanam paksa ditandai oleh lahirnya pengusaha. Pengusaha perintis yang bergerak di bidang peralatan berat adalah Frans Jacob Hubert (F.J.H) Bayer.
“Keahliannya tidak dihabiskan sebagai pekerja biasa di bengkel konstruksi pemerintah, tetapi beralih profesi menjadi pengusaha petualang,” jelasnya kepada Radar Surabaya.
Hal ini ditunjukkan ketika F.J.H. Bayer mengundurkan diri dari pekerjaan pada tahun 1841. Dia kemudian mendirikan pabrik peralatan uap De Phoenix yang berkembang baik dalam waktu tiga tahun.
“Pada tahun 1844, pabrik ini dijual kepada pemerintah dan hasil penjualan digunakan lagi sebagai modal mendirikan pabrik De Volharding,” terangnya.
Sejak perkembangan industri modern saat itu, penggunaan teknologi uap mendorong kemunculan usaha lain, yaitu penyediaan alat angkut dan perawatan mesin. Alat angkut gula menggunakan pedati (cikar) dari pabrik ke gudang dianggap kurang efisien.
Hal ini mendorong Firma Besier en Jonkheym mulai menjual lokomobil (locomobiel) pada tahun 1868 sebagai alat angkut gula. Perubahan alat produksi juga melahirkan pengusaha bengkel reparasi dan pembuatan ketel.
Industri yang dibangun tidak hanya terbatas pada perangkat produksi gula, tetapi juga terus berkembangnya industri lain. “Seperti peralatan uap, kapal, senjata, pengecoran besi dan tembaga, dan kerajinan,” pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto