SURABAYA - Salah satu profesi yang banyak digeluti orang Madura di Surabaya dan sekitarnya adalah tukang cukur atau tukang pangkas rambut. Jauh sebelum Indonesia merdeka banyak orang Madura membuka usaha potong rambut di mana saja.
Berbeda dengan salon-salon atau barbershop orang Tionghoa yang menempati bangunan permanen, para tukang cukur rambut asal Madura bisa bekerja di mana saja. Di bawah pohon rindang, dekat pasar atau warung, hingga masuk ke perkampungan.
Berbekal gunting rambut dan peralatan sederhana, orang Madura menunggu pelanggan dengan sabar. Cukup banyak foto-foto dokumentasi KITLV Belanda yang memperlihatkan tukang potong rambut asal Madura sedang memangkas rambut pelanggannnya di Surabaya.
Ridho Setyo Aji, yang menulis skripsi tentang Migrasi Orang Madura 1906-1942, menyebut gelombang kedatangan warga Madura ke Surabaya mulai terasa sejak awal tahun 1900-an. Saat itu industrialisasi di Surabaya tengah menggeliat. Perdagangan pun kian meningkat baik antarpulau maupun ekspor ke luar negeri, khususnya Belanda.
Ridho menyebut warga Madura yang saat itu kurang pendidikan dan tidak punya keahlian untuk bekerja di sektor formal terpaksa menekuni sektor informal. Bekerja apa saja asal bisa bertahan hidup."
Orang Madura itu tidak takut mati tapi takut lapar," kata Ridho.
Lulusan Universitas Airlangga itu menyebut sejumlah pekerjaan informal yang dilakoni para pendatang asal Madura di Surabaya pada awal 1900 hingga 1942 alias zaman Hindia Belanda.
Di antaranya, tukang potong rambut, tukang sate keliling, tukang jagal hewan, kuli angkut di Pelabuhan Kalimas, pemulung, tukang becak, centeng atau petugas keamanan, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang mengandalkan fisik.
"Orang Madura mau kerja fisik yang berat karena tidak ada pilihan lain. Jadi staf di perusahaan atau perkantoran tidak bisa karena tidak punya bekal pendidikan," kata Ridho. (rek)
Editor : Lambertus Hurek