RADAR SURABAYA - Gambar film-film yang ada di bioskop tahun 70an di Surabaya ternyata buatan tangan bukan menggunakan mesin pencetak atau printing seperti di era kini. Poster film dengan ukuran besar yang biasanya dipajang di halaman bioskop terbuat dari kain yang digambar.
Dahulu sudah muncul studio-studio gambar maupun personal yang khusus untuk melukis poster film. Mereka di hire oleh perusahaan film tersebut bukan dari pihak bioskop ketika membuat poster.
Salah satu perupa gambar film, Andreanus Gunawan mengatakan sudah membuat poster film mulai tahun 1972. Ketika itu dia masih SMA kelas 2 mulai diminta untuk membuat poster untuk gambar iklan bioskop di koran.
"Awalnya tahun 1972 buat gambar iklan bioskop di koran. Karena iklannya dulu gambar jadi semuanya menggunakan tinta," ujar Andreanus.
Iklan film untuk koran menurutnya digambar terlebih dulu. "Kalau dari foto terus dicetak hasilnya gak bagus dan pecah-pecah jadi harus di gambar," imbuhnya.
Baru di tahun 1973 dia sudah mulai menggambar poster kain film bioskop dengan ukuran besar. Dalam sehari ia selalu mendapatkan orderan satu sampai dua poster film.
Gambar film yang pernah digarapnya mulai dari luar negeri dan film lokal Indonesia. Bahkan poster film Dirty tricks, hingga Bing Slamet Merantau dan Beranak Dalam Kubur yang dibintangi Suzanna pernah digarapnya.
"Gambar poster yang pesan kan dari yang punya film. Saya bikin sesuai ketika dikasih contoh gambarnya terus kita atur komposisi dan ukurannya tergantung dari pesanannya," jelasnya.
Dia mengaku dalam sehari poster film itu bisa rampung, untuk ukuran standar seperti 5x2,5 meter. Jika ukurannya besar seperti 12x6 meter dia sanggup menyelesaikan dalam waktu 2-3 hari.
"Kalau yang kecil-kecil (ukuran, Red) sehari bisa jadi. Kalau yang besar bisa 2-3 hari," ujarnya.
Selama ia menggarap poster film, ratusan karya sudah dibuat dari tangannya. Poster film itu sudah tersebar ke seluruh bioskop di Surabaya seperti bioskop Arjuna di Jalan Embong Malang. "Ya kurang lebih 300 poster sudah saya buat dari film luar negeri dan Indonesia sendiri," ungkap Andreanus.
Bubarnya poster film dengan menggambar terjadi pada tahun 2000an. Bukan hanya karena teknologi printing, melainkan karena bioskop sudah mulai masuk mall. Sehingga poster film sudah mulai dicetak kecil menggunakan mesin cetak digital. (rmt/jay)