Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Depot Es Krim Zangrandi Bermula dari Tutti Frutti di Jalan Tunjungan, Sempat Bangkrut hingga Dibeli Pengusaha Anggur

Lambertus Hurek • Kamis, 2 Mei 2024 | 14:36 WIB
Depot es krim R. Zangrandi di Jalan Sindhu Negara 15 Surabaya tahun 1949 (KITLV).
Depot es krim R. Zangrandi di Jalan Sindhu Negara 15 Surabaya tahun 1949 (KITLV).

SURABAYA - Kota Surabaya punya depot es krim legendaris berusia satu abad lebih di Jalan Yos Sudarso 15. Meski bisnis es krim in pasang surut, bahkan sempat ada sengketa perdata, Zangrandi masih bertahan hingga kini.

Surat kabar De Indische Courant pada 25 Agustus 1924 sempat mencatat perjalanan bisnis depot ini di masa Hindia Belanda. Sehari sebelumnya, sebuah Istana Es Krim bernama Tutti Frutti di Jalan Tunjungan Nomor 3, Surabaya, dibuka.

Kuncarsono Prasetyo, pemerhati Surabaya Tempo Doeloe, menjelaskan pemilik Tutti Frutti seorang imigran Italia bernama Roberto Zangrandi. Dia digambarkan sebagai seniman es krim, bersama sang istri, Nyonya Zomers.

"Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada tempat di Surabaya yang mengonsumsi es krim lezat seperti di Tutti Frutti," tulis koran De Indische Courant dalam bahasa Belanda.

Tuan Zangrandi punya modal besar. Dia tercatat memasang iklan di hampir semua surat kabar di Jawa. Seperti iklan De Indische Courant pada 5 Desember 1925. Dia mengklaim sebagai depot es krim terbaik.

"Bagi Anda jaminan bahwa Anda akan menerima es krim terbaik, rasanya tak tertandingi dan disiapkan secara higienis," tulis iklan dalam bahasa Belanda.

Dari sebuah depot es krim, delapan tahun kemudian Tutti Frutti makin viral. Dia berubah jadi tempat hiburan malam terbesar.

Rebranding ini dimuat di surat kabar Algemeen Handelsblad 9 April 1932. Untuk pertama kalinya Tuan Zangrandi mendapat izin menyajikan minuman keras, sekaligus mengganti musik gramophon dengan live music, dilengkapi aula dansa tertutup.

Pembukaan makin meriah saat malam hari dipungkasi bintang tamu band Granada asal Manila yang pernah tampil di Paris.

Bisnis Tuan Zangrandi menggurita. Pada 1 Februari 1933, dia membuka salon rambut terbesar di Surabaya, di Pojokan Jalan Simpang (sekarang Gubernur Suryo) dan Palemlaan (Panglima Sudirman). Salon Zangrandi ini bahkan buka cabang di Tunjungan 33 dan 48.

Tampaknya masa kejayaan Tuan Zangrandi tidak lama. Periode 1940-an, bisnisnya jatuh. Koran De Locomotif pada 1940 memuat iklan tentang bangunan gedung Tutti Frutti disewakan. Entah apa penyebab kebangkrutan itu.

"Pada 1942, istrinya meninggal. Lebih apes lagi saat Jepang datang, Tuan Zangrandi jadi tawanan Jepang. Meskipun kelak dia dilepas karena tidak berkebangsaan Belanda. Bisnis Tuan Zangrandi tidak tercatat hingga tahun 1949," kata Kuncarsono.

Di buku Soerabaia Beeld van een Staad (1994) diterangkan bahwa Tuan Zangrandi memulai lagi merintis bisnis es krim di tempat baru. Dia menempati sebuah rumah di Jalan Sindhu Negara 15 (sekarang Jalan Yos Sudarso) dengan menyulap teras paviliunnya jadi depot es krim. Ya, hanya sebuah depot.

"Dia mulai dari nol lagi. Nama depot itu tidak lagi Tutti Frutti tapi R. Zangrandi. Tutti Frutti hanya dipakai sebagai nama menu andalan bersama tiga nama lainnya," tutur Kuncarsono.

Akibat kebijakan politik nasionalisasi Presiden Soekarno pada 1957, Zangrandi terkena imbasnya. Dihadapkan pilihan sulit sebagai WNI atau kembali ke negara asalnya. Zangrandi memutuskan pilihan kedua. Kembali ke Roma, Italia.

"Semua aset, mulai bangunan, merek dagang, hingga resep dibeli koleganya, Adi Tanumulia, seorang pengusaha minuman anggur. Sejak itulah huruf R dihapus dari nama depot R Zangrandi," papar Kuncarsono. (rek)

Editor : Lambertus Hurek
#sejarah zangrandi #Es Krim Zangrandi #konflik zangrandi #es krim tutti frutti