Keberadaan Syahbandar di Pasar Pabean saat itu sangat menguntungkan bagi pedagang. Kapal pedagang bisa langsung bertemu pembelinya.
Guntur Irianto-Wartawan Radar Surabaya
Tak jarang, pedagang berbisnis dengan menginap di lokasi ini. Bahkan, ini juga terjadi pasca VOC keluar dari Indonesia dan digantikan Pemerintah Kolonial Belanda.
Pedagang semakin banyak, kapal yang tadinya dari Timur Tengah dan Cina yang mendominasi, bertambah.
Kapal-kapal Eropa mulai masuk untuk berbisnis rempah, namun tetap melalui pengawasan Belanda saat itu.
Keberadaan syahbandar ini untuk mengatur sandarnya kapal tersebut sekaligus memungut pajak.
Perekonomian di sekitar Surabaya Utara semakin hidup. Muncul gudang-gudang untuk menyimpan hasil kebun hingga rempah-rempah.
Bahkan jejak ini masih bisa ditemui di wilayah Kecamatan Pabean Cantikan.
Beberapa jalan menggunakan nama gudang yang ada di wilayahnya. Ini menunjukkan bagaimana kemasyhuran pelabuhan Kalimas saat itu.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, perputaran bisnis dan ekonomi kala itu di pelabuhan Kalimas termasuk sangat bagus.
Banyak gudang berdiri di sekitar pinggir sungai yang juga menjadi transportasi utama kala itu. Gudang-gudang ini untuk menyimpan hasil kebun dan rempah antara lain coklat, karet, dan hasil lainnya.
"Seluruh hasil kebun dan rempah terutama disimpan di gudang sekitar pelabuhan. Baik itu dari Indonesia Timur maupun dari wilayah lain di Jawa Timur," tuturnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto