PASAR Pabean Surabaya diduga sudah ada sejak era Keraton Surabaya. Saat itu, pasar tersebut masih bersifat tradisional pasar dengan berdagang komoditas rempah yang berasal dari dalam maupun luar pulau Jawa.
Di Pasar Pabean seluruh bahan baku dan komoditas rempah atau yang bersifat agraria dikepul (didrop) untuk dijadikan tengkulak oleh para saudagar asing guna dijual kembali ke daratan Eropa, Timur Tengah hingga China.
“Memasuki paruh abad 19 dagangan yang dipasarkan di Pasar Pabean mulai beragam. Tak hanya komoditas rempah dan produk agraria saja, namun juga menjual berbagai perlengkapan atau kebutuhan rumah tangga, termasuk kain dan sejenisnya,” kata pegiat sejarah Surabaya Nur Setiawan.
Lebih lanjut, karena Surabaya merupakan kota pesisir dan masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai nelayan, maka di awal abad 20 atau sekitar tahun 1900-1940-an.
Pasar Pabean juga mulai menjual berbagai produk bahari seperti ikan segar, ikan yang diawetkan dengan cara dikeringkan hingga olahan laut lainnya.
Surabaya yang kala itu masih bersifat karesidenan, menjadikan wilayah pesisir lainnya seperti Lamongan, Gresik dan Sidoarjo juga mendrop hasil tangkapan lautnya untuk dijual ke Pasar Pabean.
Dari Pasar Pabean tadi ikan-ikan hasil nelayan tradisional dikonsumsi oleh segenap masyarakat di penjuru Surabaya dan sekitarnya.
“Ikan laut yang dijual di Pasar Pabean pun semakin beragam, hingga kini pasar ikan di Pabean bisa dikatakan sebagai pasar induk untuk perdagangan ikan segar, mulai ikan laut hingga ikan budidaya dari tambak dapat dijumpai di tempat ini,” ungkapnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto