Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bu Dar Mortir, Pejuang Perempuan Surabaya dari Balik Dapur Tempur

Fajar Yuliyanto • Kamis, 25 April 2024 | 14:05 WIB
BERJASA: Bu Dar Mortir (tengah) menjadi pahlawan perempuan yang menyuplai makanan dan air bagi pejuang saat pertempuran Surabaya.
BERJASA: Bu Dar Mortir (tengah) menjadi pahlawan perempuan yang menyuplai makanan dan air bagi pejuang saat pertempuran Surabaya.

RADAR SURABAYA - Bung Tomo, Dr Soetomo, Gubernur Suryo, KH Hasyim Asyari, Mayjen Sungkono, Mayjen Moestopo, Abdul Wahab Saleh.

Mungkin nama-nama itu sudah tidak asing di telinga warga Surabaya sebagai tokoh dan pejuang kemerdekaan di Surabaya.

Lalu bagaimana dengan tokoh atau pejuang perempuan Surabaya. Apakah ada atau memang namanya tak bergaung?.

Surabaya juga punya pejuang perempuan yang tak kalah gigih. Bukan pejuang yang maju digaris depan memegang senjata melawan musuh.

Tapi pejuang yang memperjuangkan logistik, makanan dan perut para pejuang kemerdekaan kala itu.

Dialah Darijah Soerodikoesoemo atau yang akrab disapa Bu Dar Mortir.  

Dia adalah salah satu tokoh perempuan inisiator sebagai penyuplai makanan dan air bagi pejuang saat pertempuran Surabaya. Saat itu, Bu Dar Mortir masih berusia 42 tahun.

Pemerhati Sejarah Surabaya, Achmad Zaki Yamani mengatakan, Bu Dar Mortir lahir di Surabaya tahun 1903 dan meninggal di usia 84 tahun.

Susur suginya yang tak lepas bertengger di mulut menjadi ciri khas dari Bu Dar Mortir.

“Kalau beliau sedang geregetan maka dilemparkannya susur tersebut seperti mortir. Sehingga disebut Bu Dar Mortir. Beliau turut berjuang dalam perang kemerdekaan hingga 1949,” kata Zaki dari komunitas Begandring Soerabaia ini.

Menurutnya, Bu Dar Mortir juga dibantu dengan sejumlah pembantu wanita yang terdiri dari ibu-ibu dan kaum remaja.

Dia berhasil menciptakan 51 dapur tempur untuk mendukung para pejuang kemerdekaan di Surabaya.

“Beliaunya mulai dari awal dengan membuat dapur pertamanya selama pertempuran Surabaya fase pertama melawan pasukan Inggris-India antara 27 dan 30 Oktober 1945,” ujarnya.

Dalam sebuah gerakan pengunduran di akhir tahun 1945 dari Surabaya ke kota Jombang.

Ketika sampai di kota Jombang ternyata kota ini sudah kosong ditinggalkan sebagian besar penduduknya.

Karena para pejuang sudah sangat kelaparan, maka Bu Dar Mortir mendatangi sebuah toko Cina yang masih buka.

“Bu Dar Mortir melepaskan gelang dan kalung emasnya seberat 100 gram untuk ditukarkan dengan bahan makanan bagi para pejuang,” terangnya.

Peran Bu Dar Mortir dalam revolusi dilupakan selama 30 tahun sampai sebuah kesempatan menemukan sebuah manuskrip yang didiktekannya kepada keponakannya pada tahun 1972.

“Ditemukan di arsip bawah tanah di Museum Pahlawan Tugu Surabaya tetapi dibiarkan belum dibaca, di brankas sampai tahun 2015,” ungkapnya. (jar/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #pejuang perempuan #kota pahlawan #bu dar mortir #kota lama surabaya #Surabaya Tempo Dulu #Tokoh #sejarah Surabaya