Akses pengiriman barang melalui jalur darat memang masih belum ada saat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) datang.
Guntur Irianto- Wartawan Radar Surabaya
Jalur laut menjadi satu-satunya harapan untuk pengiriman barang dari satu daerah ke daerah lainnya. Setelah membangun pelabuhan di Batavia dan di Semarang, VOC akhirnya sampai di Jawa Timur yaitu di Surabaya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, diduga saat datang ke Surabaya, VOC terkejut. Ini dikarenakan ada pelabuhan yang sudah jadi dan ramai dengan perdagangan rempah di sana.
Surabaya dulunya merupakan daerah kekuasaan Majapahit dan sudah dibangun pelabuhan di sana. Perdagangan rempah dan barang pecah belah sudah terjadi sejak dulu.
VOC melihat langsung bagaimana pelabuhan ini hidup. Perdagangan dengan sistem barter sudah berjalan dengan memanfaatkan aliran sungai sebagai jalur transportasi air kala itu.
Apalagi, sudah ada pemerintahan sekelas kerajaan yang mengatur kegiatan perdagangan saat itu. "Pendekatan dilakukan VOC kala itu hingga akhirnya mereka membangun sebuah benteng," katanya.
Benteng ini dibangun dengan diarahkan menghadap ke sungai Kalimas.
Perdagangan tersebut terjadi di Kalimas ini. Berbagai kapal baik dari Timur Tengah maupun Tiongkok bersandar disini untuk berbisnis.
"Pelabuhan pertama atau Syahbandar ada di Kalimas tepatnya di sisi barat Pasar Pabean," tuturnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto