RADAR SURABAYA - Menyebut kata Polrestabes Surabaya, seperti tidak bisa lepas dari jejak masa lalu.
Selain memang gedungnya yang merupakan bangunan lawas peninggalan Hindia Belanda, Polrestabes Surabaya memiliki sejarah yang panjang dalam pertahanan dan perkembangan Kota Surabaya di masa lalu.
Pada era Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels (1808-1811), Surabaya dibentuk sebagai kota pertahanan.
Kawasan utara sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, hingga pemukiman merupakan Kawasan penting yang dilengkapi fasilitasnya. Salah satunya yakni markas militer dan kepolisian.
Di kawasan Krembangan dibangun kompleks militer lengkap. Mulai dari barak militer, rumah sakit militer, kantor militer, perumahan perwira militer dan kantin militer.
Pembangunan pos militer kala itu juga berkaitan dengan pembangunan Jalan Raya Pos (Jalan Anyer-Panarukan) oleh Gubernur Hindia Belanda Herman Willem Daendels
Pembangunan yang menghubungkan Jakarta hingga Jawa Timur ini tidak berhenti di Panarukan saja.
Pembangunan jalan ini diteruskan hingga wilayah Surabaya. Pembangunan jalan di Surabaya pada masa itu lebih tepatnya pelebaran jalan.
Deandles juga membangun beberapa tangsi atau pos militer di sepanjang jalan ini.
Diduga pembangunan pos ini untuk mengamankan pengiriman barang melalui pos yang dilewati jalan tersebut.
"Di Surabaya kompleks militernya mulai dari Tangsi Djotangan (Polrestabes) hingga eks Giant," ujar Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetyo kepada Radar Surabaya.
Belum ada kepastian kapan gedung Tangsi Djotangan dibangun karena tidak ditemukan tetengernya atau prasastinya.
Tetapi ada yang percaya jika gedung ini dibangun pada 1828, ada juga yang menyebut gedung ini dibangun pada 1850.
Gedung ini awalnya adalah bangunan komplek militer Belanda. Barak militer ini dihuni oleh serdadu Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau tentara kerajaan Hindia Belanda.
Masyarakat menyebut bangunan tersebut saat itu dengan sebutan Tangsi Djotangan (Djotangan-Militaire Kazerne).
Nama Tangsi Djotangan kemudian berubah menjadi Hoofdbureau van Politie te Soerabaia atau Biro Besar Polisi di Surabaya saat dijadikan markas polisi Belanda pada 1928.
Nama Tangsi Djotangan sendiri berubah menjadi markas polisi Belanda dengan nama
Biro Besar Polisi di Surabaya atau dalam Bahasa Belanda disebut Hoofdbureau.
Atau masyarakat menyebutnya Hobiro. "Dijadikan kantor polisi pada tahun 1925. Sebelumnya, kantor polisinya ada di kantor pos besar di Jalan Kebon Rojo," terang Kuncar.
Pada masa pemerintahan Jepang, Tangsi Djotangan berubah nama lagi menjadi Soerabaja Shi Tokubetsu Keisatsu Tai (Pasukan Polisi Istimewa Kota Surabaya).
Dan berubah menjadi Polwiltabes Surabaya yang membawahi karesidenan Surabaya. Cakupan hukumnya meliputi Gresik, Surabaya dan Sidoarjo.
Dan pada tahun 2010, Polwiltabes Surabaya berubah nama menjadi Polrestabes Surabaya, seperti yang saat ini kita kenal.
Keberadaan polisi sendiri sudah ada sejak zaman dulu. Surabaya yang masih berbentuk keresidenan dijaga oleh polisi dibawah Hoofdbureau.
Hoofdbreau menjadi kantor kepolisian yang membawahi seluruh seksi-seksi (sekarang sektor) di wilayah Surabaya.
Polisi ini berpatroli seperti sekarang di wilayah masing-masing dengan keberadaan kantor di sekitar wilayahnya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, polisi sudah ada sejak dulu dan dibagi menjadi beberapa seksi dibawah kepemimpinan Hoofdbreau (Polrestabes Surabaya).
Adapun kantor seksi-seksi ini antara lain sekarang menjadi Mako Sat Obvit di Jalan Dr Soetomo, Surabaya. Serta bangunan yang saat ini dikenal sebagai Grha Wismilak.
"Gedung tersebut kalau tidak salah dulu kantor Seksi Surabaya Selatan," ungkapnya
Setelah terjadi tukar guling, kantor seksi ini pindah ke Jalan Dukuh Kupang yang sekarang ditempati Polsek Dukuh Pakis.
Seksi-seksi ini akhirnya berkembang seiring perkembangan penduduk dan tingkat kriminalitas di wilayah Surabaya.
"Hingga akhirnya menjadi polsek yang mengamankan wilayah per kecamatan di Surabaya karena angka kejahatan yang semakin tinggi," tuturnya.
Tangsi Djotangan yang kini menjadi Polrestabes Surabaya akhirnya dibuka pula untuk dijadikan museu. Bangunan yang terletak di Jalan Sikatan ini statusnya sebagai museum khusus yang memberikan penjelasan tentang sejarah kepolisian di Indonesia.
Peresmian museum diadakan pada bulan Oktober 2025. Museum ini juga dikenal juga dengan nama Museum Hidup Hoofdebureau.
Koleksi museum meliputi peralatan kerja kepolisian seperti senjata, alat penyelidikan dan identifikasi, dan alat penyadap suara.
Selain itu ada pula peralatan kantor seperti kamera, dan mesin ketik. Koleksi unggulan dalam Museum Polrestabes Surabaya adalah miniaturruang kerja dari perintis Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia, yaitu Moehamad Yasin. (rus/gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari