TAMAN BUNGKUL berdiri di atas lahan seluas 900 meter persegi, terletak di Jalan Darmo, salah satu jalan arteri penting di Surabaya.
Pada awalnya, taman ini berupa perkampungan warga Desa Bungkul yang terkenal dengan tokoh spiritualnya yakni Ki Ageng Supo.
Ki Ageng Supo dipercaya sebagai keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Kerajaan Majapahit yang hidup pada masa Sunan Ampel sekitar tahun 1400-1481.
Ki Ageng Supo dikenal sebagai tokoh dalam penyebaran agama Islam di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sekitarnya, yang sangat berpengaruh.
Ada yang menyebut Ki Ageng Supo adalah mertua dari Sunan Giri, karena sayembaranya mencarikah jodoh untuk putrinya dengan melarung bunga delima ke sungai yang akhirnya ditemukan oleh Raden Paku alias Sunan Giri.
Karena itu, Ki Ageng Supo dihormati dengan gelar Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul, sebagai penghargaan atas peran pentingnya bagi Surabaya.
Dalam perkembangannya, perkampungan tersebut dipindahkan dan sempat ada rencana akan dijadikan Makam Umum pada tahun 1916, karena di sana sudah ada makam Mbah Bungkul.
Namun, rencana itu tidak terlaksana. Pada tahun 1949, justru dilakukan renovasi menjadi taman dengan makam Mbah Bungkul yang tetap dipertahankan berada di belakang taman tersebut.
Alih-alih memiliki kesan mistis, makam tersebut malah menjadi daya tarik sebagai tempat ziarah bagi masyarakat dan wisatawan dari luar kota bahkan luar pulau.
Banyak yang mengunjungi makam Ki Ageng Supo untuk memberikan penghormatan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut.
Taman Bungkul mengalami proses revitalisasi selama dua tahun sebelum akhirnya diresmikan pada 21 Maret 2007 oleh Wali Kota Surabaya yang kala itu dijabat oleh Bambang Dwi Hartono.
Peresmian taman tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penanaman pohon sawo kecik.
Sejak diresmikan pada 2007, Taman Bungkul mengalami perkembangan pesat yang signifikan. Berbagai fasilitas penunjang taman dibangun di dalamnya.
Ada amphiteater berdiameter 33 meter, jogging track, area papan luncur, serta taman bermain anak-anak yang menyenangkan.
Ada pula fasilitas telepon umum, area hijau dengan kolam air mancur, serta pujasera yang memanjakan pengunjung.
Pada tahun 2014, Taman Bungkul mengalami revitalisasi kembali setelah insiden pembagian es krim gratis yang merusak ribuan tanaman dari 35 spesies pada acara Car Free Day.
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat itu, merespons dengan memerintahkan Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk memperbaiki taman tersebut.
Proses revitalisasi mencakup penanaman kembali tanaman yang mati serta penambahan spesies baru.
Selain itu, lubang biopori juga ditambahkan di beberapa titik taman untuk meningkatkan sistem resapan air. (mg2/sat/nug)
Editor : Jay Wijayanto