Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Bekas Pabrik Gula (PG) di Surabaya Era Hindia Belanda, Diperkirakan Ada 17 Pabrik Gula

Lambertus Hurek • Selasa, 19 Maret 2024 | 15:25 WIB
Alat penggilingan tebu chinesemolen milik salah satu pabrik gula di Surabaya jadi aksesoris di gerbang SMA Trimurti.
Alat penggilingan tebu chinesemolen milik salah satu pabrik gula di Surabaya jadi aksesoris di gerbang SMA Trimurti.

RADAR SURABAYA - Membahas pabrik gula (PG) di Kota Surabaya memiliki tantangan tersendiri karena minimnya data. Dari referensi Kaart van de hoofdplaats Soerabaja en omstreken tahun 1905 terdapat tujuh pabrik gula, yakni SF Karah, Ketintang, Dadoengan, Ngagel, Darmo, Bagong, dan Gubeng.

"Bagaimana dengan PG Ketabang, Keputran, Petemon? Kemungkinannya pada tahun 1905 sudah ditutup," kata Agung Widyanjaya, pemerhati pabrik gula di Jawa Timur dalam sebuah kajiannya.

Agung memperkirakan dulu Surabaya pernah punya 17 pabrik gula. Mulai skala kecil, menengah, hingga besar. Teknologi yang digunakan pun masih sederhana. 

Menurut dia, PG Ketabang adalah PG tertua di Surabaya, didirikan tahun 1835. Kemungkinan PG Ketabang ini menggunakan watermolen atau kincir air (sama seperti PG lain yang didirikan dalam rentang waktu 1830 - 1840.

Saat kontrak dengan pemerintah PG-PG wajib menggunakan watermolen untuk penggilingan tebu. Kemudian modernisasi sebagian besar PG dilakukan tahun 1849 - 1852. Saat itu PG wajib mengubah alat pemeras tebu yang menggunakan kincir air menjadi tenaga uap.

Saat itu pemerintah menyarankan menggunakan perusahaan Paul van Vlissingen (cikal bakal Werkspoor) untuk menyediakan tenaga uap. Khusus PG yang didirikan/dimiliki oleh orang Eropa, pemerintah menanggung biaya 50% untuk pembangunan mesin tenaga uap, tetapi tidak demikian PG yang didirikan/dimiliki oleh orang di luar Eropa, pemerintah tidak ikut menanggung biaya pembangunan mesin tenaga uap.

Hal ini tampaknya terjadi di PG Ketabang yang dimiliki oleh orang Tionghoa. Mereka mengganti sendiri ke mesin tenaga uap buatan Inggris (Scott Russel & Co.) karena bisa jadi tidak mau ribet dengan pola kontrak yang diajukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Salah satu PG yang dimiliki oleh orang Tionghoa di Sidoarjo, pada saat mereka mengganti ke mesin tenaga uap, biaya tidak ditanggung pemerintah dan harus melibatkan pembuat mesin tenaga uap tersebut dalam operasional PG selama lima tahun dan ikut dalam manajemen PG tersebut.

PG Ngagel (yang lokasinya berhadap - hadapan dengan PG Dermo dan hanya dipisahkan oleh sungai) pernah dibeli oleh Gunther von Bultzingslowen yang juga menjadi pemilik dua PG di Kabupaten Probolinggo, satu PG di Kabupaten Mojokerto, satu PG di Kabupaten Kediri dan satu PG di Kabupaten Pemalang.

Von Bultzingslowen sebelum menempatkan petinggi di lima PG yang dia miliki, ditempatkan terlebih dahulu di PG Ngagel. Von Bultzingslowen juga dikenal sebagai pendiri salah satu PG di Sidoarjo.

Sayangnya, karena kesulitan keuangan setelah mengoperasikan PG tersebut selama 6 tahun, diambil alih oleh Carel Andreas Frederick August Loth di tahun 1880. (rek)

Editor : Lambertus Hurek
#watermolen surabaya #jumlah pabrik gula di surabaya #pabrik gula di surabaya #chinesemolen surabaya