PADA awal periode kehadiran kereta api di Surabaya di abad ke-19, pemerintah kolonial Kerajaan Belanda lewat perusahaan (BUMN) kereta api saat itu, Staatspoorwegen (SS), telah membanun jalur ganda (doubletrack).
Dengan kehadiran jalur ganda itu, maka kecepatan puncak atau laju kereta api saat itu bisa mencapai 90 kilometer untuk kereta api di perlintasan utama dan 15 kilometer per jam untuk kereta trem.
Menurut Pustakawan Sejarah Surabaya dari Universitas Ciputra, Chrisyandi Tri Kartika, tahun 1920, pernah dilakukan uji coba di lintasan datar (rel) antara Surabaya - Bangil - Malang dengan lengkungan terkecil 50 meter dan kecepatan 90 kilometer per jam.
Untuk lintasan pegunungan yang memiliki ketinggian yang curam, kecepatannya mencapai 45 kilometer per jam.
Sehingga dengan adanya uji coba tersebut kecepatan kereta ditambah.
“Terutama setelah dilakukan perbaikan jalur kereta api,” kata Chrisyandi.
Dalam lintasan kereta api, menurutnya, dapat digolongkan atas lintas pegunungan dan lintasan datar.
Lintasan pegunungan merupakan lintasan (rel) yang mempunyai tanjakan lebih dari 10 persen.
Sedangkan lintasan di bawah 10 persen disebut lintasan datar.
“Kalau di Indonesia ada dua pulau penting yang memiliki jaringan rel. Yakni pulau Jawa dan Sumatera. Kedua pulau tersebut memiliki daerah pegunungan di bagian pedalamannya. karena memiliki ketinggian berbeda-beda,” terangnya.
Ia menyebut jalur KA Surabaya-Sidoarjo seperti Surabaya - Tarik dan Surabaya - Porong saat itu sudah menggunakan rel ganda.
Namun ketika Jepang menduduki Surabaya, jalur double track itu dihilangkan atau dibongkar.
“Jepang telah membongkar rel double track bikinan Belanda. Kabarnya untuk misi perang dan sebagian juga dibawa ke Myanmar,” paparnya. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto