Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SEJARAH SURABAYA: Masjid Rahmat Peninggalan Sunan Ampel Penanda Masuknya Islam ke Surabaya

Jay Wijayanto • Minggu, 17 Maret 2024 | 21:54 WIB
PERINTIS: Masjid Rahmat di Jalan Kembang Kuning yang didirikan Raden Rahmat di awal abad ke-15.
PERINTIS: Masjid Rahmat di Jalan Kembang Kuning yang didirikan Raden Rahmat di awal abad ke-15.

SURABAYA–Islam masuk ke Surabaya tidak terlepas dari peran Raden Rahmat yang lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Dalam sejarah, Islam masuk ke Surabaya diperkirakan pada awal abad ke-15.

Hal ini terlihat dari keberadaan Masjid Rahmat di Kawasan Kembang Kuning Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat. Masjid ini dikenal sebagai pedoman kiblat dan waktu salat lima waktu di Surabaya. 

Pustakawan sejarah dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan Masjid Rahmat adalah masjid tertua di Surabaya. “Sebelum seperti sekarang, Masjid Rahmat dulunya masih berbentuk surau. Dan kawasan Kembang Kuning merupakan salah satu kawasan dataran tinggi di Surabaya,” ujarnya.

Chrisyandi mengatakan kawasan Kembang Kuning pada masa Raden Wijaya disebut dengan Kembang Cri. Kemudian sebelum tinggal di Ampel Denta sebagai imam masjid, Raden Rahmat atau Sunan Ampel terlebih dahulu tinggal di Kembang Kuning.

"Kawasan ini dulunya adalah hutan dan rawa-rawa," katanya.

Di kawasan ini Raden Rahmat dan rombongannya babat alas serta mendirikan tempat sembahyang yang sangat sederhana. Yang beberapa abad kemudian, dibangunlah Masjid Rahmat.

"Beliau juga berkenalan dengan tokoh masyarakat Kembang Kuning, yaitu Ki Wirjo Sarojo dan juga Ki Bang Kuning," jelasnya.

Setelah melalui beberapa kali pembicaraan, kedua tokoh masyarakat itu bersama keluarganya, dengan suka rela mau memeluk agama Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmat.

Dengan masuknya kedua tokoh masyarakat itu beserta keluarganya, maka semakin mudah bagi Raden Rahmat untuk mengadakan pendekatan pada penduduk sekitarnya.

Kubah Masjid Rahmat yang indah. Masjid ini dikenal sebagai kiblat dan pedoman waktu salat lima waktu di Surabaya.
Kubah Masjid Rahmat yang indah. Masjid ini dikenal sebagai kiblat dan pedoman waktu salat lima waktu di Surabaya.

“Terutama pada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama,” tuturnya.

Ki Wirjo Sarojo dan Raden Rahmat bekerja keras membuat masjid. Hingga pada akhirnya Raden Rahmat dinikahkan dengan Karimah, putri Ki Wirjo Sarojo.

"Masjid yang dibuat dengan atap alang-alang, yang termasuk masjid tertua di Jawa. Masjid ini diberi nama Masjid Rahmat untuk mengabadikan nama pembangunnya Raden Rahmat," jelasnya.

Masjid Rahmat pernah menjadi pusat kegiatan dakwah. Bahkan semua wali sebanyak sembilan orang di Jawa yaitu Wali Songo membicarakan Islam di Masjid Rahmat ini.

Karena hubungan baiknya dengan Raja Majapahit, Raden Rahmat lalu dihadiahkan sebidang tanah di Ampel Denta, kawasan Surabaya Utara.

“Raden Rahmat berhasil mengubah wilayah yang dulunya merupakan rawa-rawa itu dengan mendirikan langgar kecil dan pesantren pertama. Di situlah, ia banyak membentuk pemuda muslim untuk menyebarkan Islam ke pelosok Pulau Jawa,” katanya.

Dakwah Islam Sunan Ampel diketeahui juga melalui jalur politik, Sunan Ampel pernah menjabat sebagai penguasa Surabaya menggantikan penguasa sebelumnya, Arya Lembu Sura yang meninggal.

Hal ini bisa dimaklumi karena Surabaya kala itu menjadi pintu gerbang utama kerajaan Majapahit dari arah timur. Hal ini membuat pengaruh Islam yang sebelumnnya datang dari pelabuhan Gresik semakin kuat. (mus/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#raden rahmat #sunan ampel #sejarah Surabaya #masjid rahmat