DALAM sejarah era kolonial, Surabaya memiliki markas angkatan laut Gubeng atau Goebeng Mariniers Kazarne. Bekas lokasi markas angkatan laut Belanda itu kini menjadi Grand City Mal.
Pegiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, markas Angkatan Laut Gubeng kala itu merupakan markas baru yang dibangun tahun 1910 di sebuah lokasi antara Jalan Gubeng Pojok, Jalan Slamet dan Jalan Melati. "Kini bekas markas itu jadi mal Grand City," ujarnya.
Ia menambahkan, pada tahun 1940 Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM) atau tempat pendidikan dan rekreasi para kader Angkatan Laut diresmikan oleh vice admiral CEL Helfrich. Tepatnya pada 6 Agustus 1940.
Pembukaan dilakukan di rumah pojok jalan antara Jalan Jimerto dan Jalan Sedap Malam yang disewa dari BPM. Kini rumah masih bertahan dan menjadi rumah dinas Pertamina.
Nanang melanjutkan, gedung KIM ada tiga tempat kala itu. Yakni satu gedung di kompleks Armada II, satu gedung di Jalan Jambi, dan satu gedung di Kazerne Gubeng yang kini menjadi Grand City Mal.
"Masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 Kazerne Gubeng dikuasai Kaigun (Angkatan Laut Jepang)," sebutnya.
Kemudian, lanjut Nanang, pada September 1945 Kaigun Gubeng diserbu massa rakyat memanfaatkan ketinggian viaduk kereta api.
Massa menghujani tembakan ke arah markas Kaigun. Pertempuran tersebut tidak berjalan lama, karena terjadi perundingan dan diakhiri dengan penyerahan senjata Jepang ke rakyat Surabaya.
Pemerhati Sejarah Surabaya Kuncarsono Prasetyo menambahkan, pasca kemerdekaan bekas markas angkatan laut Belanda itu menjadi markas KKO (marinir) Indonesia. "Sampai tahun 1980-an. Sebelum menjadi Grand City," ucapnya. (rus/nur)
Editor : Jay Wijayanto