Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Arsitektur Kolonial di Surabaya (9): Inilah Elemen Penting Sebuah Konsep Arsitektur

Hildan Sepka • Jumat, 15 Maret 2024 | 23:39 WIB
PERWAJAHAN: Fasad menjadi perwajahan sebuah bangunan, oleh karena menjadi elemen penting untuk menampilkan makna bangunan.
PERWAJAHAN: Fasad menjadi perwajahan sebuah bangunan, oleh karena menjadi elemen penting untuk menampilkan makna bangunan.

Banyak hal dalam sejarah arsitektur kolonial di Surabaya. Selain memiliki penanda yang khas, gaya arsitektural memiliki elemen penting. Dimana unsur tersebut mampu menyampaikan makna bangunan.

HILDAN SEPKA A. - Wartawan Radar Surabaya

DOSEN Arsitektur Universitas Ciputra (UC) Surabaya Freddy H Istanto mengatakan, arsitektur kolonial yang berkembang di sejarah Surabaya saat itu sangat mempertimbangkan soal “wajah”. Karena bakal menjadi identitas sekaligus daya tarik tersendiri.

Ia mengatakan, elemen penting tersebut adalah fasad bangunan.

Akar kata dari fasade yaitu facies. Sesuai istilahnya diambil dari kata latin yang berarti face atau wajah.

"Sederhananya yaitu penampilan bagian depan sebuah bangunan," ujarnya kepada Radar Surabaya.

Dia menyebutkan ada unsur utama dalam fasad gedung. Misalnya, bagian kepala bangunan atau atap. Umumnya, jenis atap yang kerap ditemui di Surabaya model atap perisai.

"Atap jenis ini cenderung digunakan pada rumah awal orang kolonial Belanda. Perkembangannya bentukan ini menjadi atap mayoritas," ucapnya.

Kata dia, atap jenis itu memiliki ciri khas khusus. Atap perisai paling cocok untuk iklim tropis di Indonesia. Pasalnya, atap itu memiliki karakter yang tinggi.

"Model ini menyesuaikan kondisi iklim di sini, umumnya akan lebih menyejukkan sebuah bangunan," ungkapnya.

Periodisasi itu pun dijumpai jenis atap yang unik. Namun, jumlahnya tidak dominan. Kata dia, perbandingannya antara lima gedung dengan atap perisai, ada satu atap dengan kombinasi gevel.

"Ini sebutan ornamen pada sebuah atap. Mudahnya kita sebut mirip seperti mahkota di atas atap. Fungsinya simbol sebuah hierarki," paparnya.

Baca Juga: Sejarah Arsitektur Kolonial di Surabaya (7): Ini Dia Dua Tokoh Arsitek Belanda Ternama di Surabaya

Mahkota itu biasanya terletak di lokasi yang spesifik. Misalnya di atas serambi depan dan belakang. Corak itu, kata Freddy banyak ditemui pada 1902 silam.

"Ini hampir bersamaan dengan perkembangan arsitektur yang corak gedung simetris dan terbuka, gaya Yunani," imbuhnya. (bersambung/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#Arsitektur Kolonial Belanda #sejarah Surabaya