SURABAYA-Bunguran dalam sejarah Surabaya adalah nama jalan kuno yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kawasan ini sudah ada sekitar tahun 1800-an atau abad 19.
Pemerhati sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, Bunguran dikenal sebaai kawasan Pecinan (Chinese Town).
Dahulu kawasan ini adalah lokasi perdagangan yang terdapat jejak spiritual.
Sehingga sampai kini masih terasa jejak spiritualnya mulai dari keberadaan beberapa kelenteng kuno yang masih berdiri di seputaran kawasan tersebut.
Mulai klenteng Hong Tiek Hian, Vihara Sinar Purnama dan Vihara Dewa Kong Tek Cun Ong.
“Jadi kawasan Bunguran selain tempat perdagangan, juga terdapat jejak spiritual seperti keberadaan kelenteng-kelenteng kuno,” kata Wawan, sapaan akrabnya.
Menurut penggagas komunitas Surabaya Historical Community ini, di Bunguran tak hanya terdapat kawasan perdagangan, namun juga pergudangan hingga penginapan yang masih terkait dengan perniagaan di sana.
Sebab, penginapan itu biasanya ditinggali oleh para pelancong maupun tengkulak yang datang ke Surabaya. Terbukti sampai saat ini roda ekonomi masih berjalan di kawasan ini.
“Hingga saat ini sisa-sisa perdagangan di Jalan Bunguran masih nampak, roda ekonomi masih berjalan di kawasan tersebut hingga sekarang,” ujarnya.
Di kawasan Bunguran juga terdapat beberapa bangunan loji yang masih berdiri kokoh.
“Sebagian berlanggam Eropa akulturasi Tionghoa, yang tentu melambangkan siapa pemiliknya,” tuturnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto