Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Arsitektur Kolonial di Surabaya (8): Mengenal Konsep Empire Style

Hildan Sepka • Kamis, 14 Maret 2024 | 14:18 WIB
JADI PENANDA: Bangunan colonial di pinggir sungai Kalimas memiliki gaya arsitektural yang khas.
JADI PENANDA: Bangunan colonial di pinggir sungai Kalimas memiliki gaya arsitektural yang khas.

Dalam sejarah arsitektur di Surabaya, ada beberapa langgam ataugaya arsitektur yang memiliki penanda khas. Misalnya struktur bangunan yang ditonjolkan. Salah satu gaya arsitektural yang banyak diterapkan di Surabaya di era kolonial adalah konsep empire style. Konsep arsitektur ini tengah berkembang di Eropa, khususnya Prancis, saat itu.

HILDAN SEPKA-Wartawan Radar Surabaya

Dosen Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya, Freddy H Istanto mengatakan, konsep empire style memiliki ciri umum yang kental. Yaitu bangunan tidak bertingkat.

Selain itu mengusung model atap seperti perisai.

"Kalau dilihat, berkesan monumental dan memiliki halaman luas," jelasnya kepada Radar Surabaya.

Dia menjelaskan, massa bangunannya terbagi beberapa bagian. Misalnya bangunan induk. Ruang utama itu terhubung oleh serambi-serambi. "Terkoneksi dengan bagian penunjang lain," ucap Freddy.

Ciri khas yang kental lainnya adalah denah bangunan. Arsitek kolonial saat itu mengonsep bangunan simetris.

Selain itu, harus dilengkapi dengan serambi depan dan belakang yang terbuka. "Dilengkapi dengan pilar batu tinggi bergaya Yunani," tuturnya.

Dia menyampaikan, tiap serambi dihubungkan oleh koridor tengah. Sehingga memunculkan kesan bangunan yang luas. Sebab sekat antar massa bangunan dibuat tidak tegas.

"Dalam arsitektural disebut roundromaharch pada gerbang masuk atau koridor pengikat antar massa bangunan dan penggunaan lisplang batu bermotif klasik di sekitar atap," bebernya.

Kata dia, sebuah bangunan memiliki bentukan dasar geometri. Tujuannya menampilkan sebuah tingkatan hierarki.

Dia menilai, penyusunan komposisinya cukup jelas dan terpusat menurut sistem geometri.

"Bentuk ditentukan oleh adanya hubungan campur tangan dan kegiatan manusia dalam bangunan. Bentuk primer ini ditentukan dari apa yang terjadi oleh kegiatan yang ada. Contoh ruang pertemuan akan berbeda bentukannya dengan ruang lain," imbuhnya. (bersambung/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#empire style #sejarah Surabaya #arsitektur kolonial