Gaya arsitektural di Kota Pahlawan banyak terpengaruh oleh tokoh-tokoh Belanda. Sejarah Suraaya mencatat mereka menciptakan sejumlah karya yang masih eksis hingga sekarang. Saat itu, konsep empire style mendominasi.
HILDAN SEPKA A.-Wartawan Radar Surabaya
Eksistensi pemerintah kolonial makin diperkuat melalui dasar hukum. Sejumlah kebijakan ditelurkan dari instelling Ordonnantie Staatblad Nomor 149/1906.
Salah satunya yang tercatat dalam sejarah adalah pembentukan Gemeente Surabaya.
Pengamat Kota Nur Setiawan mengucapkan, kebijakan itu mengatur daerah otonom. Sekaligus memberikan kekuatan kepada wilayah sekitar Surabaya. Sehingga memberikan kemajuan pesat bagi salah satu kota besar di Hindia Belanda itu.
"Ini mempengaruhi konsep kebudayaan yang mendorong gaya arsitektur yang memiliki ciri khas Eropa untuk pembeda dengan bangunan warga asli Nusantara," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Wawan sapaan akrabnya menjelaskan, gaya arsitektur yang populer saat itu adalah empire style.
Konsep itu berkembang pada abad 18 dan 19. Penggagasnya adalah arsitek bernama Cosman Citroen atau GC Citroen. "Dia arsitek kelahiran Amsterdam," ucapnya.
Dia menyebutkan, Citroen menetap di Surabaya sekitar 1915 hingga 1935 silam. Karyanya cukup dominan di Surabaya. Antara lain Balai Kota Surabaya, Rumah Sakit Darmo dan Kantor PMK di Pasar Turi.
Kepopuleran karyanya terus digunakan sebagai pedoman arsitektur kolonial masa itu. "Antara tahun 1915 hingga 1940, tapi dia meninggal pada 1935 di Surabaya dan dimakamkan di Kembang Kuning," jelas Wawan.
GC Citroen memiliki rekan arsitektur. Namanya Hendrik Petrus (HP) Berlage.
Usia HP Berlage lebih tua dari pada GC Citroen. HP Berlage kelahiran 1854, sedangkan Citroen 1881.
Keduanya berjasa dalam perkembangan arsitektur kolonial di Surabaya.
Salah satu karya HP Berlage adalah Gedung Singa pada 1901 di Jalan Veteran (Societeit straat) depan halte trem.
Karya GC Citroen tak kalah terkenal. Antara lain Jembatan Gubeng yang dibangun pada 1923-1924.
"Umumnya karya Citroen dibangun pada rentang waktu 1920-an. Balai Kota Surabaya pada 1923, Rumah Sakit Darmo pada 1921, dan Gereja GKJW Darmo pada 1926 adalah sebagian karya buatannya," imbuhnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto