Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Arsitektur Kolonial di Surabaya (6): Surabaya Terbagi Jadi Wilayah Kota Besar dan Jabakota

Fajar Yuliyanto • Minggu, 10 Maret 2024 | 07:00 WIB

 

MAJU PESAT: Pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak menjadi awal berkembangnya Surabaya menjadi kota yang modern.
MAJU PESAT: Pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak menjadi awal berkembangnya Surabaya menjadi kota yang modern.

Pengaruh pemerintahan kolonial cukup besar saat itu. Kota Surabaya mulai bergerak menuju kota modern. Sejumlah fasilitas penting bermunculan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

HILDAN SEPKA A-Wartawan Radar Surabaya

Perkembangan dan pertumbuhan Kota Pahlawan dimulai sejak di bawah penjajahan Belanda. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dilaksanakan politik pintu terbuka. Sehingga sejumlah investasi masuk ke Hindia Belanda.

"Paling pesat daerah-daerah di Pulau Jawa," ujar pengamat sejarah kota Surabaya Nur Setiawan kepada Radar Surabaya.

Hal tersebut berdampak kepada perkembangan kota di Hindia Belanda. Khususnya Pulau Jawa yang berupaya menjadi lebih modern seperti negara-negara Eropa. Sehingga masa tersebut dikenal sebagai periode kota kolonial 'keras'.

"Kota Surabaya adalah salah satu kota di Jawa yang mengalami fase ini," ucap Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan.

Perkembangan wilayah Surabaya semakin pesat. Itu ditandai dengan berdiri beberapa fasilitas penting. Misalnya, Pelabuhan Tanjung Perak, jalan, rel kereta api, trem, rumah sakit, dan gedung-gedung pemerintahan yang dijadikan sebagai strategi dari politik.

"Gedung ini untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia oleh pihak Hindia Belanda," ungkapnya.

Praktiknya Surabaya bergeser dari kota tradisional menuju modern. Kewilayahannya terbagi menjadi dua. Yakni, wilayah distrik besar dan distrik jabakota.

"Istilah ini digunakan menyebut wilayah terluar yang menjadi bagian pengawasan, dulu letaknya di sekitar Wonokromo," papar Wawan.

Pada awal abad ke-20 wilayah Surabaya memiliki fungsi penting. Itu mendorong pembangunan dan tata kota yang mendukung tujuan masa pemerintahan kolonial. Kota Pahlawan sebagai tempat pengumpulan hasil bumi dari daerah pedalaman.

"Ya, wilayah-wilayah di Nusantara yang memiliki sumber daya alam, khususnya hasil bumi," terangnya.

Dia menyebutkan, misalnya kopi, tembakau, gula, hingga karet. Seluruh hasil bumi tersebut menjadi tujuan ekspor.

Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota pelabuhan dan industri yang berkembang. "Sangat pesat. Ya, otomatis, kolonial mengubah tata ruang kota," jelas Wawan.

Sebagai gambarannya, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi jantung kota saat itu. Pada 1912 silam, pembangunan pelabuhan menjadi prioritas.

Sebab, perannya bakal menggantikan Pelabuhan Kalimas dalam waktu singkat.

"Bahkan saat itu eksistensinya melebihi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta," imbuhnya. (bersambung/nur) 

Editor : Jay Wijayanto
#sejarah Surabaya #arsitektur kolonial