RADAR SURABAYA - Bangunan lawas peninggalan Belanda memang kerap terlihat indah dan megah.
Gaya arsitektur yang khas serta detail tiap ruang dan sisinya memberi nuansa tersendiri pada bangunan yang sudah berusia puluhan, bahkan ratusan tahun.
Namun di balik keindahan arsitektur bangunan lawas peninggalan Belanda, biasanya ada sisi misteri yang turut melingkupi.
Salah satu bangunan lawas peninggalan Belanda yang masih megah namun menyimpang sisi misteri adalah bangunan yang kini menjadi kantor Radar Surabaya.
Bangunan yang berada tepat di sisi selatan Jalan Kembang Jepun sebelum gerbang Kya-Kya ini dulunya adalah bekas kantor bank Belanda. Yaitu Uniebank.
Menurut Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto, pada era kolonial bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai kantor sebuah bank.
"Iya, bangunan yang diperkirakan dibangun tahun 1800-an itu dulunya adalah kantor Uniebank," ujarnya.
Sebuah foto koleksi Tropenmuseum dengan judul Drukte in de Handelstraat in Soerabaja Oost-Java (Keramaian Handelstraat di Soerabaja Jawa Timur) memperlihatkan bangunan berlantai dua tersebut dan terdapat tulisan 'UNIEBANK' pada dinding samping bangunan.
Gedung yang berada di Jalan Kembang Jepun 167 tersebut kemungkinan besar merupakan kantor De Uniebank Voor Nedherland En Koloniel.
"Karena pada saat itu Handelstraat (sekarang Jalan Kembang Jepun) merupakan kawasan perdagangan, jadi sangat memungkinkan sebuah kantor bank berdiri di sini," imbuhnya.
Tidak ada yang tahu pasti sejarah dan tahun berapa bangunan cagar budaya tersebut dibangun.
Namun, keberadaan beberapa brankas di dalam bangunan menjadi bukti kuat bahwa De Unie Bank memang pernah berkantor di sana.
Di balik kemegahan bangunan tersebut, banyak orang meyakini bahwa terdapat sosok astral yang mendiami bangunan kantor Radar Surabaya.
Bahkan beberapa orang mengaku pernah menyaksikan langsung penampakan sosok tersebut.
Ya, beberapa orang menyaksikan bahwa di bangunan yang dulunya merupakan kantor pertama Jawapos tersebut terdapat sesosok noni atau perempuan muda keturunan Belanda.
Noni tersebut berpenampilan cantik dengan wajah khas keturunan Belanda, memakai pakaian berwarna putih tulang dengan kombinasi merah muda dan selalu membawa payung.
Tidak hanya diam di salah satu sudut di bangunan tersebut, namun noni Belanda ini kerap berjalan-jalan ke berbagai sudut ruangan.
Mulai dari naik turun tangga, berjalan di lorong-lorong dalam bangunan tersebut, hingga keluar masuk setiap ruangan.
Novita, seorang perempuan dengan kemampuan indera keenam ini menuturkan, sebenarnya bukan hanya noni Belanda saja sosok astral yang mendiami bangunan tersebut.
Tetapi banyak sosok-sosok lain yang juga sudah lama mendiami bangunan tersebut.
Selain noni Belanda juga ada sosok anak laki-laki keturunan Belanda. Dan juga sosok-sosok astral lokal lain yang mendiami hampir seluruh bagian bangunan tersebut.
“Kalau si noni itu memang suka jalan-jalan, naik turun tangga sambil membawa payung yang senada dengan gaun khas Eropa yang dia kenakan,” ujarnya.
Meskipun banyak dihuni makhluk astral, menurut Novita, namun makhluk-makhluk tersebut bukan yang tipe usil dan menganggu.
Mereka hidup berdampingan di dimensi yang berbeda dengan manusia dan tidak berniat mengganggu.
“Karena kalau untuk menampakkan diri, atau bahkan hanya membuat suara dan memindahkan barang itu butuh energi yang besar. Mereka mendiami tempat itu sudah lama, puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu dan tak berniat mengganggu,” tuturnya.
Penampakan noni Belanda dibangunan lawas peninggalan Belanda memang bukan hanya di bangunan kantor Radar Surabaya saja.
Namun di bangunan peninggalan Belanda lainnya yang ada di Surabaya juga kerap terjadi hal serupa. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari