Sejarah Surabaya mencatat, ciri khas arsitektur era kolonial sangat kuat. Sebab itu menjadi identitas penguasa saat itu yang membedakan dengan kaum bumiputera.
HILDAN SEPKA A.-Wartawan Radar Surabaya
Ciri utama arsitektur kolonial di Surabaya saat itu mudah diamati. Unsur paling kental dari bentuk, hiasan dan benda yang harmonis, hingga kesesuaian bahan material yang digunakan.
Menurut pengamat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan, tujuannya untuk menunjukkan jati diri anggota kelompok yang berkuasa.
"Situasi pemerintahan kolonial mengharuskan penguasa bergaya hidup, berbudaya, serta membangun gedung dan rumah tempat tinggalnya berbeda dengan rumah bumiputera," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Jati diri melalui gaya arsitektural itu menjadi pembeda dengan pribumi. Para kolonial tinggal berkelompok. Wawan, sapaan akrabnya menjelaskan, mereka tinggal di bagian wilayah kota yang dianggap terbaik.
"Jadi di Surabaya pemetaannya menjadi sangat mudah. Misalnya kawasan utara yang akses pelabuhan mudah, mereka banyak ditemukan di area tersebut," ucapnya.
Keberadaan arsitektur bangunan mempunyai ciri yang unik. Menurutnya, itu dapat dilihat dari periode pembangunannya. Bangunan-bangunan Kota Surabaya terbagi tiga fase periodisasi.
"Perkembangan arsitektur kolonial Belanda terbagi menjadi abad ke-19, awal abad 20, dan periode arsitektural antara 1900 hingga 1942," terang Wawan.
Gaya arsitektur kolonial abad 19 sampai awal abad 20 sering disebut sebagai empire style. Di Hindia-Belanda gaya tersebut diterjemahkan secara bebas sesuai dengan keadaan. Konsep tersebut memiliki misi khusus.
"Dari hasil penyesuaian ini terbentuklah gaya yang bercitra kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan serta iklim dan tersedianya material saat itu," bebernya.
Gaya indis tersebut tidak saja diterapkan pada rumah tempat tinggal. Tapi juga pada bangunan umum lain seperti gedung-gedung pemerintahan. “Bahkan gaya indis tersebut kemudian meluas ke semua lapisan. Ini sekitar era 1850-1900," imbuh Wawan. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto