Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Arsitektur Kolonial di Surabaya (4): Munculnya Tren Tata Kota dari Eropa

Hildan Sepka • Rabu, 6 Maret 2024 | 22:34 WIB

 

FASILITAS PELENGKAP: Pemerintah kolonial selalu membuat taman di dekat pemukiman bangsa Eropa, jejaknya terlihat di beberapa wilayah Surabaya.
FASILITAS PELENGKAP: Pemerintah kolonial selalu membuat taman di dekat pemukiman bangsa Eropa, jejaknya terlihat di beberapa wilayah Surabaya.

Tampaknya julukan Surabaya sebagai Kota Seribu Taman terpengaruh dari sejarah di masa kolonial.

HILDAN SEPKA A.-Wartawan Radar Surabaya

PADA awal 1990-an, di Surabaya populer penataan garden city alias taman kota di Eropa.

Tren itu kemudian diterapkan di Batavia (kini Jakarta. Red) hingga menyebar ke seluruh wilayah kota besar di Indonesia.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, konsep tata kota perkembangannya di sejumlah daerah seluruh Indonesia. Penggagasnya adalah Thomas Karsten.

Dia adalah seorang arsitek pembangunan tata kota. "Batavia saat itu muncul peraturan untuk membangun taman-taman kota," ujarnya kepada Radar Surabaya.

Efek itu terus mempengaruhi kota lain. Salah satunya adalah Kota Pahlawan. Peninggalan era kolonial, misalnya, Tunjungan, Gedung Grahadi, Balai Pemuda, Balai Kota, hingga kawasan sekitar Kalimas.

"Pengaruh itu terus berkembang dan menjadi prioritas hingga sekarang. Tapi, dalam dokumen tertulis, tidak ada yang menyebut karya Karsten di Surabaya. Artinya tokoh ini hanya memberikan pengaruh soal garden city saja," ungkapnya.

Wawan mengungkapkan, gaya khas Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan.

Kata dia, Karsten mengedepankan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah.

Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah dengan adanya pembagian lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonomi, yaitu tinggi, menengah dan rendah. "Ini sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu," tuturnya.

Baca Juga: SEJARAH SURABAYA: Mobil Masuk Surabaya, BPM Buka Pom Bensin di Gemblongan Tahun 1930

Dia menyampaikan, Karsten menilai bahwa perencanaan kota merupakan aktivitas yang saling terkait. Antara lain, sosial, teknologi, ekonomi, hingga fisik dasar yang harus dipertimbangkan bagi terciptanya keselarasan lingkungan perkotaan. Kota sebagai organisme hidup yang terus bertumbuh.

"Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka," urai Wawan.

Pada awal abad ke-20 arsitektur indis merupakan gaya seni yang memiliki ciri khusus. Wawan akrabnya menilai, pengaruh gaya tersebut menjadi bagian periodisasi. Yaitu, era pengaruh budaya Eropa terhadap kebudayaan Indonesia.

"Salah satu wujud kebudayaan yang terpengaruh oleh gaya indis adalah bentuk bangunan atau arsitektur rumah yang merupakan wujud ketiga dari kebudayaan yang berupa benda-benda hasil karya manusia," imbuhnya. (bersambung/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#sejarah Surabaya #Taman Kota #garden city