RADAR SURABAYA - Indonesia sudah menjadi salah satu jujugan pedagang sejak zaman kerajaan.
Banyak pedagang yang datang, tidak hanya dari Eropa saja, melainkan juga dari Timur Tengah.
Pedagang dari Timur Tengah ini tidak hanya berdagang saja, melainkan mereka juga melakukan syiar agama Islam.
Hingga akhirnya mereka menetap di Indonesia hingga sekarang ini. Salah satunya yakni di wilayah Surabaya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, awalnya saudagar Timur Tengah ini hanya berjualan kemudian kembali ke negaranya.
Namun, setelah Sunan Ampel atau Raden Rahmat mulai membangun Masjid Ampel dan pesantren di sekitar wilayah Ampel, membuat saudagar ini mulai menetap.
"Salah satunya karena ada tempat ibadah dan bisa sekaligus syiar agama di Surabaya," jelasnya kepada Radar Surabaya.
Ini membuat kampung Arab mulai ada di wilayah sekitar Masjid Ampel dan sekitarnya.
Pedagang ini menetap dan bertempat di satu wilayah awalnya. Selanjutnya, mereka bertukar budaya hingga kuliner. Sehingga semakin membaur dengan masyarakat Surabaya.
Saudagar Arab membawa budaya dan kebiasaan mereka yang khas, seperti bahasa Arab, musik, dan kuliner khas Arab.
"Pertukaran budaya ini terjadi di banyak wilayah, kampung Arab ini banyak di Surabaya, namun memang tidak sebesar di wilayah Ampel," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, kebudayaan Arab tersebut akhirnya melebur dengan budaya lokal, dan menciptakan budaya yang unik dan khas di kampung tersebut.
Wilayah ini menjadi pusat kegiatan budaya dan seni Islam di Surabaya. Di sana, pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni tradisional Islam, seperti marawis.
Bagi masyarakat, Kampung Arab Surabaya juga dikenal dan identik dengan kawasan Ampel.
Kawasan ini merupakan salah satu tempat wisata religi yang terkenal di Surabaya.
Wilayah ini terletak di Kecamatan Semampir, tepatnya di sebelah utara Jembatan Suramadu.
Kampung tersebut telah lama menjadi pusat kegiatan keagamaan, terutama bagi masyarakat muslim di Surabaya.
“Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, kampung ini juga memiliki nilai sejarah yang kaya. Wilayah ini merupakan salah satu tempat pertama di Surabaya yang dihuni oleh masyarakat Arab pada abad ke-15,” terang Nur Setiawan. (gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari