SURABAYA-Sejumlah kawasan stren kali yang dulunya terkesan kumuh, kini beberapa diantaranya sudah tampak bagus. Seperti misalnya stren Kali Jagir, Wonokromo, dan Mastrip.
Pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, kawasan stren kali Surabaya terdapat beberapa kampung yang membentang mulai timur ke barat. Yakni mulai Medokan Semampir hingga Mastrip, Karang Pilang.
Umumnya mereka adalah kaum pendatang atau urban berusia muda yang masuk ke Surabaya untuk mencari kerja. Namun karena kurang pengalaman dan pendidikan, maka umumnya mereka bekerja di sektor informal.
“Anak muda kampung stren kali Surabaya ini memiliki paguyuban. Jadi mereka bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, membuat rumahnya yang semula membelakangi sungai menjadi menghadap sungai. Selain itu juga memberikan jalan inspeksi di pinggir sungai yang tadinya tidak ada,” ujarnya kepada Radar Surabaya, kemarin.
Selain itu, lanjut Wawan, anak muda paguyuban ini juga membuat berbagai macam kegiatan kebudayaan. Misalnya larung sesaji yang merupakan bentuk rasa syukur. “Jika biasanya di laut, ini bedanya di kali,” katanya.
Dulu, sekitar tahun 1960-an stren Kali Surabaya adalah bantaran sungai yang merupakan lahan kosong berupa sawah dan kebun, jalan makadam, belum ada jaringan listrik, dan permukiman hanya mengikuti jaringan jalan.
Perkembangan selanjutnya pada tahun 1980-an jaringan listrik mulai masuk, tanggul mulai dibuat, tanah mulai dipetak-petak, permukiman semakin banyak, industri mulai bermunculan, dan sungai mulai tercemar.
Stren Kali Wonokromo dan Kali Surabaya merupakan bagian dari sejarah pertumbuhan permukiman di kota Surabaya yang sudah terbentuk sejak lama. Kedua tempat tersebut merupakan awal mula tumbuhnya permukiman.
Wilayah stren yang paling banyak jumlah penduduknya yaitu Kampung Jagir, disusul Bratang. Jumlah yang paling sedikit yaitu Kebonsari. Proses masyarakat mendapatkan tanah stren berbeda antara wilayah yang satu dengan yang lainnya. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto