Kota Pahlawan menjadi wilayah penting dan diperhitungkan di mata dunia. Pasalnya menjadi pengimbang dalam perdagangan dunia yang semakin dinamis setelah pembukaan Terusan Suez pada saat itu. Sesuai perjalanan sejarah, Surabaya tak lagi hanya sebagai kota dagang.
HILDAN SEPKA A-Wartawan Radar Surabaya
Pengamat Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, Surabaya berkembang menjadi kota singgah. Yaitu daerah koloni yang nyaman, bahkan sesuai selera orang Eropa.
Sehingga, era sejarah kolonial, memindahkan pusat pemerintahan dari Oud Surabaya ke Weltevreden (daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa).
"Para kolonial membangun kota baru penting dalam bidang pembangunan perkotaan," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Kemajuan kota cukup pesat setelahnya. Tak hanya perdagangan, bahkan sektor industri meningkat. Sehingga mengakibatkan kenaikan populasi Surabaya saat itu.
"Ada faktor inisiatif individu juga yang mempercepat skala perluasan kota," ungkapnya.
Misalnya adalah bentuk bangunan rumah tinggal para pejabat. Khususnya dalam lingkup pemerintahan Hindia Belanda.
Konsep gedungnya cukup kental. "Memiliki ciri-ciri perpaduan antara bentuk bangunan Belanda dan rumah tradisional," beber Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan.
Model bangunan pada zaman itu disebut arsitektur Indis. Selain bangunan rumah tinggal, konsep tersebut pun tampak pada bentuk gedung pemerintahan. Ciri khas yang menonjol pada atap bangunan.
"Bangunan gedung pemerintahan bentuk rumah tradisional Jawa ditentukan oleh beberapa atap bangunan," ucapnya.
Konsep itu dipengaruhi pencampuran kultur. Yakni gaya hidup Belanda dengan pribumi. Akulturasi budaya Indis itu pun menjadi landasan model arsitektur perpaduan tersebut.
"Suburnya budaya Indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Dengan demikian, larangan membawa istri kecuali pejabat tinggi dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda mengakibatkan terjadinya percampuran darah. Budaya ini menjadi ciri khas tersendiri pada awal abad 20 dengan diwakili oleh gaya arsitektur Indis-nya," imbuh Wawan. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto