GEMBONG dalam sejarah Surabaya merupakan salah satu kampung lawas yang posisinya berada di pinggiran kawasan Pecinan seperti kampung Kapasan dan Pecindilan.
Nama Gembong sendiri sudah tertera pada Kaart Van Soerabaia atau Peta Surabaya tahun 1928.
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, sejak dulu Gembong merupakan kawasan perdagangan.
"Banyak masyarakat yang aktivitasnya berdagang di kawasan ini," ujarnya.
Selain itu, di Gembong juga pernah ada depo migas.
Menurut Nur Setiawan, depo ini untuk penerangan karena saat itu kawasan ini masih gelap gulita.
"Listrik adalah salah satu sumber penerangan yang pernah ada di Surabaya. Sebelum listrik, sumber penerangan di Surabaya memakai bahan bakar gas dan minyak," katanya.
Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh masyarakat Pecinan dengan menawarkan jasa penerangan dengan menyediakan senter berbahan bakar minyak.
"Pada 1877, dibuat persiapan untuk pembangunan pabrik gas di Gembong. Pembangunannya baru terealisasi pada 1879," terangnya.
Pembangunan pabrik gas di Gembong ini dilakukan dan dikelola oleh N.V. Nedelandsche Indiesch Gas Maatschappij (NIGM) atau Perusahaan Gas Negara Hindia Belanda.
Hadirnya gas negara ini membuat Surabaya khususnya kawasan utara yang menjadi pusat kota menjadi terang.
"Sebenarnya, aliran gas bumi ini sudah mulai mengalir ke rumah-rumah pada 1879, tapi penerangan jalan umum menjadi lebih masif dan resmi menyala pada 1881," terangnya.
Karena posisinya yang strategis di tengah perkampungan, pabrik atau depo gas milik NV. NIGM ini pernah terbakar pada sekitar tahun 1980-an.
"Akhirnya depo ini ditutup dan diratakan yang kemudian dijadikan kawasan perdagangan dengan berdirinya mal ITC," katanya.
Wawan mengatakan, kawasan Gembong juga merupakan saksi perjuangan Arek Suroboyo melawan Tentara Inggris.
"Tepatnya di viaduk yang sekarang jadi tempat nongkrongnya masyarakat kalau sore hari untuk melihat kereta datang atau berangkat dari Stasiun Semut," tuturnya.
Saat ditanya soal Pasar Loak yang sejak dulu ada di kawasan Gembong, Wawan mengatakan bahwa kawasan itu sebenarnya para pedagang di pasar loak itu dulunya ada di Kapasari.
"Namun di era Wali Kota Bu Risma (Tri Rismaharini), pasar loak tersebut direlokasi ke kawasan Gembong agar sesuai dengan namanya," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto