Sejarah Surabaya mencatat arsitektur yang berkembang di Kota Pahlawan sangat dipengaruhi dari luar. Sebab, wilayah yang berbatasan langsung dengan laut itu menjadi pusat pelabuhan.
HILDAN SEPKA A-Wartawan Radar Surabaya
Faktor paling kental adalah peninggalan bangsa sebelumnya, yaitu Eropa. Warisan arsitekturnya menjadi kekayaan tersendiri di kota Surabaya.
Pengamat Kota Surabaya Nur Setiawan menjelaskan, pada abad ke-18, Surabaya menjadi kota dengan sektor penting.
Yaitu jalur perdagangan dari berbagai negara. Sehingga, eksistensi pelabuhan di Kota Pahlawan semakin tersohor.
"Menjadi pusat pelabuhan laut timur atau Asia Timur," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Konsep dan penataan wilayah utara yang berdekatan area pelabuhan kental pengaruh kolonial. Namun, menurutnya, ciri khas bangunannya belum terlalu menunjukkan kesan borjuis. Melainkan masih dominan bergaya klasik Eropa.
"Ada faktor pendahulu yang dibawa, seharusnya ada kesan borjuis yang dibawa dalam konsep arsitektur. Tapi ini justru enggak," ucapnya.
Sedangkan, pada pertengahan abad ke-18, Surabaya makin dikenal. Nama Kota Pahlawan masyhur sebagai salah satu kota pantai yang menjadi pusat perdagangan.
Mulai skala Asia, bahkan dunia. "Makanya dijuluki sebagai Queen of The East. Ya, karena ini," ungkap Wawan akrabnya.
Pemerintah Hindia Belanda sangat mengandalkan Surabaya sebagai pelabuhan. Sekaligus menjadi pusat jalur perdagangan di Timur Jauh. Sehingga peran Surabaya semakin penting.
"Apalagi ketika 1886 dibangun Pelabuhan Tanjung Perak. Ini ditunjuk sebagai pelabuhan modern saat itu," bebernya.
Baca Juga: Gedung Sekolah Tionghoa THHK di Kapasari Surabaya Sempat Jadi Kampus AWS kemudian SMK Farmasi
Selain berdagang, para kolonial memiliki tujuan lain. Yaitu, mengubah wajah wilayah utara dengan nuansa yang kuat seperti di Negeri Belanda. Namun, arsitektur kolonial kurang mendapat perhatian.
"Arsitektur kolonial di Indonesia kurang mendapat perhatian. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka terlalu sibuk akan masalahnya sendiri, serta iklim dan cara hidup yang memang berbeda antara Indonesia dan Belanda," imbuhnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto