Sejarah Surabaya tak pernah habis. Sebab wilayah pesisir seperti Kota Surabaya memiliki fungsi penting sejak zaman baheula. Salah satunya menjadi pusat administratif pemerintahan dari sebuah sistem era kolonial.
Hildan Sepka A-Wartawan Radar Surabaya
Karena lokasi geografis tersebut, maka pemeritah kolonial berwenang untuk mengatur wilayah yang ada di sekitarnya.
Pengamat Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, Kota Surabaya memiliki karakteristik yang berbeda dengan kota lainnya.
Pasalnya, wilayah pesisir itu menjadi pusat administratif. Sehingga, pemimpin era kolonial berwenang untuk mengatur wilayah yang lain di sekitarnya.
"Kota lainnya mempunyai fungsi untuk memberikan berbagai macam barang dan jasa untuk keraton," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Menurutnya, Kota Pahlawan menjadi perhitungan dari luar negeri. Pedagang asing dan pengrajin ahli merupakan porsi penduduk yang besar.
Pasalnya, Surabaya sangat terpengaruh oleh berbagai kontak dengan negara asing.
"Para pedagang dan pekerja ahli dikelompokkan dalam wilayah menurut negara asal di bawah kepala kelompok mereka," ucapnya.
Sekitar abad 18 perkembangan Kota Surabaya mengalami babak yang baru. Pionirnya adalah Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen.
Kata Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan, kepemimpinan saat itu ingin membangun sebuah tiruan dari kota Belanda lama dalam bentuk Surabaya yang berada di pantai utara Jawa.
"Jan Pieterszoon Coen mempunyai keinginan untuk mengisi kota Surabaya dengan warga Belanda dan juga ingin memindahkan karakter dan budaya borjuis Belanda ke Indonesia," ungkap dia.
Surabaya dengan cepat berkembang menjadi Kota Timur yang khas. Bahkan, saat itu, memberikan contoh akulturasi yang terstruktur.
Sejak awal pembentukannya, Kota Surabaya dijadikan pusat penguasa kolonial di Indonesia.
"Konfigurasi penduduk beserta wilayah pemukimannya sudah berkiblat pada bentuk kemajemukan," imbuhnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto