Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SEJARAH SURABAYA: Benteng Kedung Cowek dan Kisah Pasukan Batak yang Gugur Mempertahankannya dalam Perang 10 November 1945

Jay Wijayanto • Jumat, 1 Maret 2024 | 01:00 WIB
Dipasang Plakat Cagar Budaya Benteng Kedung Cowek Jadi Wisata Unggulan
Dipasang Plakat Cagar Budaya Benteng Kedung Cowek Jadi Wisata Unggulan

BENTENG Kedung Cowek memegang peranan penting dalam sejarah Surabaya. Khususnya di masa perang 10 November 1945. Benteng ini adalah konstruksi bersejarah yang dibangun pada tahun 1900 di pesisir Kenjeran, Surabaya, sebagai warisan dari masa penjajahan Belanda.

Selain berfungsi sebagai gudang senjata dan amunisi, bangunan ini menjadi saksi bisu perang di Surabaya pada 10 November 1945, yang dalam sejarah Surabaya dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Benteng ini dalam sejarah Surabaya pernah digunakan pemerintah kolonial Belanda sebagai gudang amunisi untuk melawan Jepang saat perang di Laut Jawa.

Karena itu, warga setempat menamakannya sebagai Gudang Peluru karena ditemukannya aneka amunisi (peluru) berbagai ukuran di benteng ini. Selain itu, di dalamnya terdapat beberapa bunker sebagai tempat perlindungan.

Dari sumber literatur Belanda, benteng ini dinamakan Oosterkust Batterij Soerabaia atau batere di pantai timur Surabaya.

Ini karena benteng ini dibangun dengan sistem pertahanan artileri mirip batere susunan seri. Yakni mendukung antara artileri yang satu dengan yang lain.

Sistem artileri/meriam di benteng ini ditempatkan secara terpisah membentuk formasi memanjang di tepi pantai. Setiap meriam tersebut memiliki jarak tembak tertentu. Sehingga setiap meriam memiliki jarak tembak bantu antar meriam.

Benteng ini dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan Belanda yang membentang dari Surabaya hingga Gresik dengan menempati luas tanah sekitar 71.876 meter persegi.

Saat benteng ini berhasil dikuasai oleh Jepang, militer Dai Nippon memanfaatkannya untuk memperkuat pertahanan di sepanjang sisi Laut Jawa dan Selat Madura.

Kemudian saat Jepang kalah perang di Asia Timur, benteng ini kembali ingin dikuasi oleh militer Belanda yang membonceng sekutu. Namun, benteng ini sudah dikuasai dan menjadi tempat pertahanan bagi Pasukan Sriwijaya.

Pasukan Sriwijaya adalah sekelompok pemuda dari berbagai daerah di Sumatera seperti Tapanuli, Aceh, dan Deli Serdang, yang membantu arek-arek Suroboyo dalam perang Surabaya Raya melawan pasukan sekutu pada 10 November 1945.

 

ANGKAT SENJATA: Anak-anak muda dari komunitas sejarah Surabaya menampilkan teatrikal Merebut Benteng Kedung Cowek Surabaya, Minggu (20/11/2022). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
ANGKAT SENJATA: Anak-anak muda dari komunitas sejarah Surabaya menampilkan teatrikal Merebut Benteng Kedung Cowek Surabaya, Minggu (20/11/2022). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Pasukan ini beranggotakan 400 tentara eks Heiho (pasukan sukarela Nippon) yang dibawa Jepang ke Morotai di Halmahera Utara, Maluku, untuk menghadapi pasukan Amerika pimpinan Jenderal Douglas McArthur.

Ketika Jepang kalah perang, pasukan ini hendak kembali ke Sumatera namun terdampar di Surabaya. Pimpinan pasukan ini yakni Jansen Rambe, kemudian diajak bergabung dalam perang di Surabaya oleh Letkol dr Wiliater Hutagalung, arek Suroboyo berdarah Batak yang menjadi salah satu pimpinan arek-arek Suroboyo. 

Dengan keahliannya mengoperasikan meriam-meriam Jepang di Morotai, pasukan eks-Heiho langsung tune-in dengan meriam-meriam Belanda yang ada di Benteng Kedung Cowek.  

Sebagian dari pasukan ini kemudian gugur di benteng ini karena dibombardir oleh pasukan sekutu dari laut dan udara.

Peran vital pasukan ini terletak pada upaya mereka dalam melindungi kemerdekaan Indonesia yang terancam oleh kedatangan militer Belanda yang membonceng sekutu. (jay)

 

Editor : Jay Wijayanto
#oosterkust batterij #benteng kedung cowek #batak #medan #kenjeran #gudang peluru #sejarah Surabaya