DALAM sejarah Surabaya, profesi tukang atau pekerja bangunan sudah ada sejak era klasik atau zaman kerajaan. Profesi ini merupakan salah satu profesi kuno yang masih ada dan dibutuhkan hingga kini.
Pemerhati Sejarah Surabaya, Nur Setiawan menjelaskan, bahwa pada masa Majapahit para tukang bangunan dikerahkan untuk membangun candi, istana kerajaan, pelabuhan hingga tanggul penahan air.
Namun pada masa kolonial tukang bangunan tak hanya cakap dalam mendirikan sebuah bangunan atau gedung, namun juga harus bisa merancang.
“Jadi kalau dulu tukang bangunan hanya membangun candi, istana kerajaan, pelabuhan hingga tanggul penahan air. Tetapi pada masa kolonial sampai sekarang bukan hanya membangun saja tapi juga bisa mendampingi arsitek agar saling bersinergi untuk mewujudkan sebuah bangunan yang dikehendaki bersama,” kata Wawan sapaan akrabnya.
Wawan mengatakan, untuk sebutan tukang di zaman kerajaan disebut Sutragrahin.
Sedangkan tukang bangunan atau ahli bangunan sipil zaman Majapahit ada sekitar tahun 1200–1500-an. Untuk masa kolonial mulai tahun 1600-1945 Indonesia merdeka sampai sekarang.
Untuk perbedaan profesi tukang di zaman dahulu dengan sekarang adalah di sarana dan peralatannya.
“Tukang bangunan zaman dulu lebih tradisional, hanya menggunakan perlengkapan yang sifatnya temporer, namun bisa digunakan secara periodik serta dikerjakan secara kolosal. Sedangkan tukang zaman sekarang menggunakan alat yg sangat modern, lebih ringkas dan cepat,” tambahnya.
Sementara itu, untuk sekarang profesi tukang bangunan masih memegang peranan. Tak hanya otodidak, bahkan profesi ini punya sekolah khusus setingkat SMK hingga universitas.
“Jadi setiap proyek pembangunan gedung pencakar langit, jembatan, tol hingga bedah rumah selalu melibatkan para tukang yang andal,” tutupnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto