SURABAYA - Stasiun Surabaya Kota yang juga dikenal sebagai Stasiun Semut memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian integral dari perkembangan kereta api di Indonesia.
Stasiun yang berlokasikan di Jalan Stasiun Kota No. 9 Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, ini menjadi tempat ujung rel kereta api sebelum mengawali perjalanan baik dari keberangkatan di Stasiun Surabaya Gubeng, Surabaya Pasar Turi, maupun KA lokal dari Stasiun Surabaya Kota.
Pembangunan Stasiun Semut atau Stasiun Surabaya Kota dimulai pada tahun 1870-an oleh Staatssporwegen (SS), perusahaan kereta api negara milik pemerintah kolonial Belanda.
Ini adalah stasiun pertama yang dibangun SS di Surabaya dan Jawa Timur yang dibuka secara resmi tepat pada 16 Mei 1878 oleh Johann William van Lasberge, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-55.
Sebagai titik sentral transportasi, Stasiun Semut menjadi saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Jawa dan evolusinya dari zaman kolonial hingga modern.
Dari Stasiun Semut lah, SS membangun jaringan kereta api pertama di Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya-Pasuruan dan diresmikan bersamaan dengan peresmian Stasiun Semut.
Menyusul kemudian, SS juga membuka jalur-jalur lain yang menghubungkan ke Kota Malang lewat Bangil, jalur ke Banyuwangi lewat Jember, dan jalur baru yang mengarah ke Mojokerto berlanjut ke Madiun hingga Jogjakarta.
Penyebutan nama Stasiun Semut, jika ditelusuri sejarahnya terpapar dalam dua buku literasi kuno. Yaitu Spoorwegstations op Jawa karya Michiel Van B De Jong dan Gedenboek Van Staatspoer en Tramwegen van Nederlands Indie 1875-1925 tulisan S.A Reitsma.
Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pada zaman kolonial pernah ada perkemahan militer Belanda yang bermukim di dekat stasiun dengan nama ‘Semoet.’
Sehingga, kemudian nama stasiun di tepi Kalimas ini dikenal dengan nama Stasiun Semut. Namun demikian, pemerintah Gemeente Soerabaja (Pemkot Surabaya) secara resmi mengakui stasiun ini dengan nama Stasiun Soerabaja Kota.
“Sejarah mengenai nama Semut ini dapat dibaca di dalam dua buku itu, karena sekitar stasiun pernah ada perkemahan militer Belanda yang memungkinkan dinamakan Semoet, sehingga stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Semut,” jelas Rizky Nur Adrianto, Ketua Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Surabaya kepada Radar Surabaya.
IRPS adalah komunitas pecinta kereta api atau railfans yang memiliki kontribusi dalam menjaga history atau sejarah perkeretaapian Indonesia. Ini sebagai bentuk kecintaan mereka untuk terus mengulik segala bentuk dokumentasi lengkap sejarah kereta api.
Tak hanya di era kolonial, keberadaan Stasiun Semut selama periode kemerdekaan Indonesia memegang peran vital dalam menyatukan kota Surabaya dengan daerah-daerah di sekitarnya.
Di era modern, stasiun peninggalan Hindia Belanda ini sempat mengalami perombakan pada tahun 2002 yang mengancam eksistensinya sebagai bangunan bersejarah. Sesuai skenarionya, Stasiun Semut hendak dihancurkan karena di lahan bekas stasiun tersebut hendak dibangun pusat perbelanjaan yang telah dikerjasamakan pembangunannya dengan perusahaan lain saat itu.
Namun pada 13 Juli 2012, Stasiun Semut mulai dipugar untuk dikembalikan ke bentuk aslinya setelah kesepakatan yang didapatkan dari beberapa pihak terkait, seperti Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Jatim dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Saat ini, Stasiun Semut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM 23/PW007/MkP/2007 tentang Penetapan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
“Pada tahun 2012-2015, terjadi perbaikan atas bentuk tanggungjawab karena pembongkaran sebelumnya, seperti PT KAI, Pemkot Surabaya, dan termasuk perusahaan yang terlibat,” jelas Rizky Adrianto.
Secara terpisah, Manager Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 8 Surabaya, Luqman Arif, mengatakan bahwa Stasiun Surabaya Kota atau dikenal dengan Stasiun Semut sebelumnya dibuka untuk melayani penumpang KA jarak jauh. Namun seiring berjalannya waktu, Stasiun Semut hanya melayani penumpang KA lokal.
Selebihnya, stasiun ini melayani proses operasional KA jarak jauh sebelum memulai dinas mengantarkan penumpang untuk keberangkatan dari Stasiun Surabaya Gubeng dan Surabaya Pasarturi.
“Memang pernah ada naik turun penumpang KA jarak jauh (di Stasiun Semut), tapi saat ini hanya melayani KA lokal saja. Selebihnya untuk layanan operasional KA sebelum berdinas,” ucap Luqman Arif.
Untuk memenuhi kebutuhan penumpang dalam hal pelayanan, Stasiun Surabaya Kota juga mengalami berbagai renovasi dan pembaruan untuk memenuhi standar keamanan dan kenyamanan modern.
Meskipun demikian, stasiun ini berusaha mempertahankan keaslian dan ciri khas arsitektural kolonialnya yang unik. Seperti dari perubahan penataan ruangan demi kepentingan keselamatan, karena bangunan yang sudah berusia berabad-abad dan mengurangi potensi risiko bahaya terhadap penumpang maupun pekerja di Stasiun Surabaya Kota.
“Kalau dalam pengoperasian dan segala teknisnya, stasiun ini telah memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang ditetapkan oleh pemerintah. Jadi, stasiun ini masih mampu sebagai fasilitas transportasi bagi masyarakat lokal,” jelas Luqman Arif.
Ia menambahkan, Stasiun Semut belum bisa dikategorikan sebagai tempat edukatif seperti museum. Namun stasiun ini selalu dilakukan pengecekan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan guna memenuhi Standar Pelayanan Minimum untuk melayani penumpang seperti stasiun pada umumnya.
Luqman menambahkan, stasiun ini sangat penting dan harus dijaga kelestariannya. Namun demikian, tetap memperhatikan faktor keselamatan sebagai sarana transportasi.
"KAI Daop 8 Surabaya berkolaborasi dengan komunitas seperti IRPS melakukan hunting berburu sisa sisa sejarah dan menuangkannya dalam ide untuk menjaga keutuhan bangunan,” pungkas Luqman Arif.
Ketua IRPS Rizky Nur Adrianto menambahkan, pemerintah kolonial Belanda membangun stasiun kereta api saat itu sebagai fasilitas penunjang transportasi yang masal dan cepat untuk mengangkut bahan-bahan pangan dari perkebunan yang ada di pedalaman Jatim (Pasuruan dan Malang) ke pelabuhan yang posisinya ada di Surabaya.
“Alasan pemerintah kolonial Belanda mendirikan Stasiun Semut pada masa itu, sebagai sarana transportasi penumpang dan barang logistik dari kota-kota pedalaman yang ada di Jawa Timur,” jelas Rizky.
Tidak hanya sebagai pusat transportasi, Stasiun Semut juga mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.
Pada masa Hindia Belanda, pemerintahan kolonial memutuskan untuk membangun Stasiun Semut dengan berlandaskan bahwa daerah di sekitar stasiun merupakan jantung perekonomian Surabaya (Jatim) dan tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pintu gerbang Indonesia Timur.
Dijelaskan, Stasiun Semut dalam perkembangannya bukan hanya tempat naik turun penumpang. Tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, ekonomi dan politik di Surabaya. (mg/1/gus/jay)
Editor : Jay Wijayanto