BAGI warga kampung Kalibutuh mungkin sudah tidak asing dengan pesarean Raden Ayu (R.A) Pandansari. Namun bagi yang lainnya mungkin masih asing.
Pesarean itu ada di kampung Kalibutuh, tepatnya di belakang pengrajin knalpot di Jalan Kalibutuh.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan menjelaskan, tak ada keterangan pasti siapa sosok R.A Pandansari di kampung Kalibutuh tersebut.
Namun, menurut cerita tutur warga asli kampung di sana menceritakan bahwa jenazah yang dimakamkan di tempat itu adalah sesosok bayi perempuan.
Ceritanya pada zaman Belanda terdapat jenazah bayi yang hanyut di aliran sungai sekitar situ. Kebetulan jenazah bayi itu mengapung lalu berhenti di kali yang melintasi kampung kalibutuh.
“Oleh masyarakat sekitar jenazah itu dihanyutkan kembali tapi tak bisa hanyut malah tetap berhenti di tepi kali kampung kalibutuh. Padahal aliran kali tersebut masih panjang ke utara,” kata Nur Setiawan.
Sementara itu, karena jenazah tersebut tidak bisa hanyut maka oleh warga dimakamkan di kampung Kalibutuh.
Menurut warga, dahulu masyarakat yang menemukan jenazah bayi perempuan itu melihat wajah sang bayi mempunyai wajah mirip orang Belanda campuran Jawa.
Masyarakat menduga bayi ini berasal dari pasangan orang Belanda dan bumiputera, yang diduga memiliki hubungan namun tak direstui oleh keluarganya hingga menjalin asmara secara diam-diam.
Penamaan R.A Pandansari di makam tersebut dimunculkan sekitar tahun 1960-an oleh seorang paranormal atau orang pintar.
Awalnya pesarean itu mempunyai cungkup kecil, dan agak terbuka. Tapi sekarang sudah dipugar dan menjadi bagus. “Bahkan tiap tahun di makam R.A Pandansari dilaksanakan ritual sedekah bumi,” tutupnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto