Sekitar tahun 1890-an banyak minuman alkohol (alcoholgehalte) yang beredar. Dari berbagai macam minuman beralkohol yang banyak dikenal oleh orang adalah bier (bir). Bir memiliki kadar alkohol tiga sampai lima setengah persen.
Rahmat Sudrajat-Wartawan Radar Surabaya
Artinya setiap 100 liter bir hanya ada tiga sampai lima setengah liter persen kandungan alkohol.
Menurut pengamat sejarah, Ikhsan Rosyid, dahulu kandungan alkohol bir memang bisa dibilang sedikit dibandingkan minuman alkohol lainnya seperti arak dan wiski yang mencapai 60 persen kandungan alkohol yang ada.
Sedangkan yang paling besar kandungannya adalah rum, bisa mencapai 45 sampai 75 persen.
Anggur Prancis ketika itu memiliki kandungan alkohol mencapai 12 persen. Berbeda dengan anggur Italia yang mencapai 14 persen dan anggur port kandungannya 17 persen.
"Kalau bir Inggris masih minim bisa 5-7 persen kandungan alkohol yang diproduksi," kata Ikhsan.
Seiring berjalannya waktu berkembang bir yang dibuat oleh Heineken memiliki kandungan yang lebih besar sedikit dari bir Inggris.
Dengan produk pertamanya bir yakni Java Bier.
Ketika itu alkohol yang diracik dengan gandum mencapai 7,9 persen alkohol.
"Perusahaan Heineken ketika itu membuat bir agak tinggi persentase alkoholnya karena mengikuti perkemahan zaman yang ada. Dan daya beli masyarakat ketika itu, " tuturnya.
Bahkan minuman alkohol seperti sopi mencapai 40 persen kandungan alkoholnya. Sedangkan brendi juga sama kandungan alkohol mencapai 40 persen.
"Ini yang kemudian banyak isu-isu kesehatan yang berkembang tentang tingginya kadar alkohol yang dihasilkan dapat merusak kesehatan," terangnya.
Heineken di tahun itu berhasil menciptakan produk alkohol dengan rasa yang berbeda dengan kebanyakan jenis alkohol yang ada.
"Masing-masing merk yang diproduksi pastinya ditambahkan bahan yang berbeda. Namun tetap menggunakan gandum sebagai bahan utama," pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto