PERTOKOAN emas di Blauran sudah ada sebelum tahun 1970-an. Karena di Blauran dikenal luas sebagai pusat toko perhiasan emas.
Pustakawan sejarah Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, lokasi ini dipilih para penjual emas karena lokasi yang strategis tidak jauh dari Jalan Tunjungan.
Karena dulu sebelum ada BG Junction pernah ditempati bioskop dan pertokoan Wijaya.
"Jadi lokasinya itu strategis dari Jalan Tunjungan dan Jalan Embong Malang yang sejak dulu jadi pusat keramaian dan jujukan masyarakat," kata Chrisyandi.
Menurut Chrisyandi, di Blauran sendiri tidak hanya pedagang emas saja, tapi banyak pedagang lainnya.
Sedangkan untuk gedung atau toko-toko di sana bukan hanya ditempati para pedagang emas saja, tapi pedagang lainnya.
"Untuk gedung-gedung tidak bisa didefinisikan kalau di sana untuk toko emas, tetapi ada juga toko yang di pinggir jalan yang berjualan emas,"ujarnya.
Mayoritas pedagang emas di Blauran dulu merupakan orang Tionghoa, namun sekarang sudah campur.
Jadi dulu kalau ada pedagang emas hanya satu dan sering laris atau laku dagangannya maka diikuti sama pedagang lainnya. Selain itu, orang Tionghoa kalau berdagang memang kuat.
"Karena dulu kuat untuk pedagang dari Tionghoa. Kalau sekarang pedagangnya sudah campur semuanya," jelasnya.
Kawasan itu pernah mengalami masa keemasan di era tahun 1970-an hingga 1990-an.
"Sebenarnya saya pernah lihat di buku telepon tahun 1970-an sudah ada pedagang emas di Blauran. Jadi pedagangnya berbagai macam dan bukan pedagang emas saja di sana," pungkasnya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto