DI Kota Surabaya selain terdapat lapangan terbang Darmo, dahulu juga ada lapangan terbang Morokrembangan.
Lapangan terbang ini dibangun oleh satuan penerbang angkatan laut Hindia-Belanda sekitar tahun 1922.
"Lapangan terbang Morokrembangan adalah lapangan terbang militer pertama di Surabaya. Namun milik atau pengelolaan di bawah angkatan laut Hindia Belanda," jelas Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan, kepada Radar Surabaya.
Lapangan terbang Morokrembangan diresmikan pada tahun 1925.
Lapangan terbang Morokrembangan ini memiliki panjang landasan pacu sekitar 1 kilometer (KM) dan lebar 40 meter.
Dahulu pesawat pertama yang digunakan pesawat amfibi. Memiliki beberapa hanggar untuk menyimpan dan merawat pesawat amfibi.
Landasan pacu lapangan terbang Morokrembangan membentuk huruf X.
Saat Hindia-Belanda menyerah dalam Perang Pasifiik, lapangan terbangan Morokrembangan dikuasai angkatan laut Jepang.
Kala itu pangkalan laut dan udara ini sangat penting bagi militer Jepang.
Kemudian saat Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945, pesawat banyak dikuasai arek-arek Suroboyo.
Sayang, saat itu tidak ada pilot yang mampu menerbangkannya karena keterbatasan sumber daya dan pengetahuan.
"Pada bulan Oktober 1945, Bung Karno beserta rombongan dari Jakarta yang akan menjembatani gencatan senjata antara pihak Sekutu dan tentara Republik juga mendarat di lapangan terbang Morokrembangan ini," terangnya.
Kemudian saat pertempuran 10 November 1945, pesawat-pesawat eks Jepang di lapangan terbang Morokrembangan ini akhirnya menjadi sasaran meriam dari kapal perang Inggris yang berlabuh di Laut Jawa.
"Lapangan ini kemudian dipindah ke daerah Juanda pada tahun 1960-an yang sekarang menjadi Lanudal TNI Angkatan Laut. Bekas lokasi lapangan terbang Morokrembangan ini ada di antara Jalan Morokrembangan dengan jalan masuk ke gerbang Tol Surabaya-Gempol (dari Perak)," paparnya. (rus/nur)
Editor : Jay Wijayanto