Heineken yang membeli saham Cobra tahun 1935 memutuskan untuk memperluas dan merenovasi pabrik bir di Jalan Ratna. Perluasan itu sebagai kantor pusat sekaligus pembuatan bir di Surabaya.
Rahmat Sudrajat-Wartawan Radar Surabaya
Menurut pengamat sejarah Ikhsan Rosyid, Heineken sebelum berada di Surabaya mempunyai pabrik di Medan akhirnya berpindah tempat dan menjadikan Surabaya sebagai kantor pusat sekaligus produksi bir.
Pemindahan kantor dari Medan ke Surabaya dilakukan setelah Heineken merenovasi dan memperluas pabrik di Jalan Ratna.
"Tahun 1937 Heineken memindahkan kantor pusat Heineken yang semula ada di Medan menjadi di Surabaya," ujar Ikhsan kepada Radar Surabaya.
Ketika itu modal perusahaan yang berganti nama Heineken's Nederlands Indische Bierbrouwerij Maatschappij (HNIBM) mempunyai modal perusahaan 150 ribu gulden.
"Setelah memindahkan kantor pusatnya ke Surabaya modal tercatat 200 ribu gulden menjadi 150 ribu gulden karena adanya reorganisasi kepemilikan dari NV. Nederlandsh Indische Berbrouwerij menjadi Heineken's Nederlands Indische Bierbrouwerij Maatschappij," terangnya.
Ketika itu pangsa pasar bir adalah orang Belanda, Eropa, kaum Indo, ambtenaar (pekerja pamong praja), militer dan bangsawan pribumi.
"Tapi bir ini sangat digemari bukan saja oleh bangsa Eropa di Hindia Belanda, tetapi juga oleh kalangan elit pribumi sebagai simbol status dan pergaulan kalangan atas," ujarnya.
Bahkan untuk menginformasikan keberadaan pembukaan pabrik bir itu, perusahaan tersebut mempromosikan bir racikannya secara besar-besaran agar orang mengkonsumsi bir tersebut.
"Dulu ya dipromosikan besar-besar merk itu agar orang membeli produknya," ujarnya.
Produk yang terkenal atau banyak digemari adalah Tjap Bintang. "Banyak orang yang tertarik mengkonsumsi itu baik untuk pesta maupun untuk konsumsi sehari-hari yang menjadi kebiasaan orang-orang Eropa maupun Belanda," pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto