Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pabrik Bir Pertama di Surabaya (30) : Beberapa Pengusaha Sempat Melirik Pendirian Pabrik Bir

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 01:06 WIB
DIMINATI: Pangsa pasar bir yang tak hanya kalangan Eropa saja, namun juga pribumi kelas atas menjadi bisnis yang sangat menjanjikan kala itu. (ISTIMEWA)
DIMINATI: Pangsa pasar bir yang tak hanya kalangan Eropa saja, namun juga pribumi kelas atas menjadi bisnis yang sangat menjanjikan kala itu. (ISTIMEWA)

Lokasi pembuatan bir di Surabaya memang dirasa cocok ketika itu. Dimana para pengusaha telah melihat pangsa pasar atau konsumen yang tak lagi adalah orang-orang Belanda atau Eropa yang ada di Surabaya.

Rahmat Sudrajat-Wartawan Radar Surabaya

Selain itu, bangsawan pribumi juga memanfaatkan bir sebagai pergaulan dengan kalangan elit. Bagi kalangan pribumi, bir menjadi simbol status dan pergaulan kalangan atas.

Pengamat sejarah Ikhsan Rosyid menjelaskan, sebelum berdirinya NV. Nederlandsh Indische Berbrouwerij, ada seorang pengusaha Prancis yang juga berminat mendirikan pabrik bir di Surabaya, namun kalah cepat dengan NV. Nederlandsh Indische Berbrouwerij.

Awal mula Rene Gaston Dreyfus yang merupakan putra seorang bankir Prancis saat itu pernah dilatih sebagai pembuat bir. Ia lantas mendirikan Societe Financiere de Brasseries (Sofibra) di Swiss.

Tahun 1929 Dreyfus menghubungi Heineken's Bierbrouwerij Maatschappij NV (HBM) untuk menyelidiki kemungkinan dalam mendirikan pabrik bir di Jawa.

"Bersama Tuan Feith dari Heineken, ia (Dreyfus) melakukan perjalanan ke Hindia Belanda. Kesimpulannya, mengingat lokasinya, hanya Surabaya yang cocok sebagai lokasi pendirian pabrik untuk membuat bir," kata Ikhsan kepada Radar Surabaya.

Sesampainya, ternyata Brasserie Coloniale (Cobra) sudah membeli tanah di Ngagel untuk membangun pabrik bir (brewery). Oleh karena itu Heineken memutuskan untuk tidak mendirikan tempat pembuatan bir di Hindia Belanda.

"Dalam perjalanan kembali ke Belanda, Feith sempat mengunjungi Singapura. Di sana bertemu dengan Fraser & Neame (Fn), yang akhirnya menghasilkan kolaborasi," terangnya.

Beberapa saat kemudian, HBM terlibat dengan investor Interbra, yang memiliki kepentingan dengan Cobra.

Dengan cara ini, Heineken memperoleh mayoritas di Pabrik Bir Hindia Belanda Cobra pada tahun 1935.

Hanya dua tahun kemudian, HBM diberi dua huruf dan nama barunya adalah Heineken's Nederlands-Indische Bierbrouwerij Maatschappij atau HNIBM. (bersambung/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#pabrik bir pertama #NV Nederlandsh Indische Berbrouwerij #Heineken #orang eropa