Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Lagu Terakhir WR Soepratman yang Membuatnya Ditangkap Belanda dan Ditahan di Kalisosok

Jay Wijayanto • Selasa, 3 Oktober 2023 | 23:22 WIB
Peringatan Hari Musik Nasional diambil dari hari lahir pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman yang merupakan pencipta lagu Indonesia Raya. (ANTARA)
Peringatan Hari Musik Nasional diambil dari hari lahir pahlawan nasional Wage Rudolf Soepratman yang merupakan pencipta lagu Indonesia Raya. (ANTARA)

WAGE Rudolf (WR) Soepratman dikenal sebagai seorang komposer dan pencipta lagu Indonesia Raya yang kemudian ditetapkan sebagai lagu kebangsaan.

Lewat gesekan biola dan nyanyian Indonesia Raya yang dibawakannya saat kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta, membuat hidupnya tidak tenang.

Ia diawasi terus oleh Belanda karena dianggap memprovokasi dengan kata merdeka di lagu Indonesia yang diciptakan dan dinyanyikannya.

Ketika itu, Wage Rudolf (WR) Soepratman melarikan diri ke Surabaya. Dalam pelariannya ke Surabaya selama kurang lebih delapan bulan, WR Soepratman sempat ditangkap oleh Belanda.

Menurut Budi Harry, cucu dari Gijem Soepartinah yang merupakan adik kandung WR Soepratman, lagu ciptaan terakhir sang paman buyut adalah Matahari Terbit yang diciptakan tahun 1937.

Lagu ini sempat dinyanyikan oleh Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), cikal bakal Pramuka Indonesia.

Lagu Matahari Terbit ini dinyanyikan KBI di studio Nederlansch Indische Radio Omroep (NIROM) yang terletak di Jalan Embong Malang, Surabaya.

Namun, lagu ini malah dianggap membela Jepang. Sehingga membuat pemerintah kolonial Belanda ketika itu kebakaran jenggot. 

"Gara-gara lagu Matahari Terbit dalam lagu tersebut dianggap pro terhadap Jepang, sehingga WR Soepratman ditangkap. Namun karena tidak ada bukti yang kuat pro terhadap Jepang, akhirnya Belanda melepaskan," ungkap Budi Harry.

Sewaktu ditangkap Belanda, WR Soepratman ditahan di Penjara Kalisosok. Menurut Budi, saat itu kondisi sang paman buyut sudah sakit parah akibat paru-paru basah.

"Mungkin ketika itu juga ada sisi humanis Belanda untuk tidak jadi menahannya, sehingga langsung dikembalikan ke rumah kediaman ibu di Jalan Mundu (saat ini Jalan Mangga, Red) Tambaksari," terangnya.

Setelah ditangkap Belanda, kondisi musisi kelahiran Purworejo, Jateng, ini kian memburuk. Sampai akhirnya WR Soepratman yang tinggal di rumah tersebut bersama kakak dan adik perempuannya tutup usia pada 17 Agustus 1938 dalam usia 35 tahun.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Jalan Tambak Segaran Wetan. "Saat meninggal dunia, di kasur beliau ada secarik kertas berjudul selamat tinggal," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#lagu terakhir #indonesia raya #lagu kebangsaan #wr soepratman