Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pabrik Bir Pertama di Surabaya (20) Tutupnya Dipengaruhi Kondisi Sosial, Politik dan Ekonomi

Rahmat Sudrajat • Jumat, 22 September 2023 | 21:39 WIB
pro dan kontra: Pabrik bir di Jalan Ratna tutup di tahun 1995 dan berpindah ke Mojosari, Mojokerto. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
pro dan kontra: Pabrik bir di Jalan Ratna tutup di tahun 1995 dan berpindah ke Mojosari, Mojokerto. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Pabrik arak lebih dulu tutup daripada pabrik bir. Penutupan pabrik arak dikarenakan kondisi zaman pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut pegiat sejarah, Nur Setiawan, pabrik arak tutup sekitar tahun 1950, sedangkan pabrik bir masih terus berproduksi bahkan sampai ke luar pulau, tepatnya di Medan. Bahkan saham pabrik bir sampai dibeli oleh Prancis.

"Lokasi pabrik arak yang ada di Bagong Ginayan tepatnya di dekat deretan besi tua (saat ini) terpaksa harus tutup karena perkembangan zaman," kata Nur kepada Radar Surabaya.

Pabrik bir sendiri tutup di tahun 1995, berpindah ke Mojosari, Mojokerto. Perpindahannya pun sama karena lokasi industri Ngangel tidak lagi representatif bagi industri seperti bir. Mengingat kebutuhan tempat tinggal sangat dibutuhkan seiring perkembangan populasi penduduk.

Namun menurut Nur, penutupan kedua pabrik alkohol tidak hanya menyangkut aspek perkembangan zaman karena populasi penduduk yang mulai padat, namun juga aspek sosial, ekonomi dan politik. Pasca Indonesia merdeka, keberadaan organisasi muslim juga berkembang pesat. Kehadiran masyarakat pribumi mulai mengenal ajaran syariat Islam, dan sudah menganggap alkohol haram untuk dikonsumsi. Berbeda ketika dulu saat zaman Belanda masih berkuasa pribumi masih banyak yang mengkonsumsi alkohol.

Sehingga mau tidak mau kondisi tersebut membuat pabrik arak maupun pabrik bir juga harus angkat kaki dari Surabaya. "Kondisi sosial politik juga mempengaruhi keberadaan pabrik arak maupun bir untuk tutup maupun pindah," ujarnya.

Selain itu, Nur juga mengatakan dari segi ekonomi saat pabrik mengeluarkan dana sosial juga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Akan timbul pro dan kontra yang terjadi andaikan pabrik bir masih berada di Surabaya.

"Jelas itu akan menjadi pro dan kontra ketika pabrik bir mengeluarkan dana CSR (corporate social responsibility) untuk masyarakat sekitar di Surabaya yang notabene muslim mayoritas. Keberadaan organisasi muslim juga akan mempengaruhi," ujarnya.

Selain itu, penyalahgunaan minuman beralkohol di kota besar seiring berkembangnya zaman juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Apabila pabrik bir terus berkembang di Surabaya kondisi sosialnya juga akan berdampak.

"Dampaknya pada anak-anak dan juga remaja-remaja sekitar yang kerap menyalahgunakan bir maupun arak. Zaman saat ini aja nggak ada pabrik bir di Surabaya pengaruh minuman beralkohol juga marak dikonsumsi tak beraturan, apalagi masih ada pabrik alkohol?," pungkasnya. (bersambung/rmt/nur)

 

Editor : Jay Wijayanto
#pabrik bir tertua di dunia #pabrik bir tertua #pabrik arak #Pegiat Sejarah Surabaya