SURABAYA - Pabrik arak di Jalan Bagong Ginayan memang bukan saingan pabrik bir di Jalan Ratna. Dua pabrik minuman beralkohol itu mempunyai pangsa pasar masing-masing. Arak dikonsumsi untuk kalangan pribumi karena harga yang lebih murah, sedangkan bir dikonsumsi oleh orang-orang Eropa yang tinggal di Surabaya.
Produksi arak, mencapai ratusan liter dalam sekali produksi, sedangkan produksi bir sebesar 45 ribu HL per tahunnya. Menurut pegiat sejarah Nur Setiawan, arak produksi Surabaya dihasilkan melalui proses fermentasi beras yang disuling untuk kemudian diambil cairan yang mengandung alkohol. "Dahulu arak bukan hanya untuk minum saja, namun sebagai bahan campuran bumbu masakan," kata Nur kepada Radar Surabaya .
Kemasan arak produksi Bagong Ginayan menurut Nur sama dengan bir, yakni dalam bentuk botol kaca yang memiliki kapasitas satu liter hingga setengah liter. "Arak-arak itu dimasukkan dalam kemasan botol kaca kapasitasnya satu liter hingga setengah liter yang ditata dalam satu krat," ujarnya.
Pabrik arak dimiliki oleh seorang saudagar dari China yang juga memperkerjakan orang pribumi. Namun perkembangan zaman juga menentukan nasib pabrik arak yang berdiri sejak 1910, lebih tua dibandingkan pabrik bir yang berdiri 1929, namun baru produksi di tahun 1931.
"Setelah tahun 1950 pabrik arak sudah tidak ada alias tutup. Karena perkembangan zaman dan seiring bertambahnya jumlah penduduk di Surabaya," pungkasnya. (bersambung/rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto