SURABAYA - Lokasi pabrik bir Heinekens Nederlandsh Indische Bier Brouwerij Maatschappij atau yang berganti nama menjadi PT Multi Bintang Indonesia dulu terletak di seberang timur sungai Ngangel atau sungai Kalimas, tidak jauh dari sungai Jagir Wonokromo dengan berbatasan sebelah timur jalur kereta api.
Dengan lokasi yang cukup strategis kala itu, tentu memudahkan dalam urusan distribusi maupun pasokan bahan baku. "Ini memudahkan dalam mendistribusikan bir ketika itu lewat jalur perairan juga jalur kereta api," kata pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Stasiun Wonokromo dan Gubeng memang tidak jauh dari lokasi pabrik tersebut. Sehingga memudahkan pengiriman atau distribusi di kompleks industri di kawasan tersebut. "Selain ada pabrik bir juga ada pabrik-pabrik lain di kawasan Ngangel, yang dulu merupakan kawasan industri sebelum akhirnya pindah," terangnya.
Selain itu, transportasi darat seperti cikar juga dimanfaatkan untuk membantu pengiriman barang maupun pendistribusian bir lewat jalur darat. "Cikar juga dulu dimanfaatkan untuk mengirim barang ketika itu. Tak hanya pabrik bir saja yang memanfaatkan, tapi pabrik lain di sekitar juga memanfaatkan cikar sebagai transportasi pengiriman," terang pustakawan asal Universitas Ciputra tersebut.
Sementara itu, perkembangan zaman saat ini telah membuat perubahan bangunan lama pabrik bir. Tentunya disesuaikan dengan alih fungsi bangunan saat ini.
Perubahan bangunan karena bangunan tersebut sempat mengalami kekosongan setelah kepindahan pabrik ke Mojokerto. Kemudian bangunan dialih fungsikan menjadi berbagai macam tempat usaha, mulai dari pertokoan, restauran, hingga perkantoran.
"Jelas berbeda karena dalam keadaan berfungsi serta keadaan yang tidak berfungsi. Seperti konstruksi atap juga berubah. Kemungkinan menggunakan konstruksi kayu," katanya.
Selain itu, sebelum hadirnya AJBS, usaha lain seperti apartemen yang berlantai tinggi juga yang akhirnya tidak jadi. Kemudian pertokoan dan sebagian dulunya merupakan lahan kosong yang berpagar tanpa fungsi yang jelas. "Sebagian bangunan dulu juga merupakan perumahan karyawan yang masih bertahan," pungkasnya. (bersambung/rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto