SURABAYA - Setelah sekutu keluar dari Indonesia, beberapa bangunan yang sebelumnya khusus untuk warga Eropa berhasil dikuasai warga Bumiputera. Tak terkecuali, beberapa tempat hiburan di Surabaya.
Salah satunya keberadaan bioskop sebagai pilihan hiburan kala itu. Namun, saat pertama kali dinasionalisasi, film yang diputar ini masih banyak film Eropa sebagai tontonan kala itu.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, awalnya setelah dikuasai oleh pemerintah Indonesia, gedung bioskop masih memutar film barat.
Namun, kemudian sekitar 1950-an, film lokal atau Indonesia mulai muncul. Bioskop yang menjadi hiburan kalangan menengah atas ini dinilai menjanjikan kala itu. "Mulai 1950 ini bioskop memutar film lokal buatan anak bangsa," katanya.
Saat itu film yang diputar sudah bersuara. Masyarakat bisa menonton bioskop seperti bioskop sekarang ini namun dengan kualitas film yang lebih rendah baik dari sisi gambar maupun suara.
Meski begitu, bioskop termasuk hiburan mewah kala itu bahkan hingga saat ini. "Bioskop di Surabaya kala itu lumayan banyak dan tersebar, tapi memang kebanyakan di kawasan pusat kota," tuturnya.
Beberapa gedung bioskop di Surabaya saat itu yang terkenal antara Pesident Theatre di Jalan Embong Malang bersebelahan dengan Broadway Theatre, yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Arjuna.
Kemudian Bioskop Luxor di Jalan Pasar Besar yang berganti nama menjadi Bioskop Jaya, dan Bioskop Indra di pojok Jalan Simpang depan Balai Pemuda, atau sekarang menjadi Jalan Gubernur Suryo.
Kemudian Bioskop Sampoerna di Jalan Kebalen, Bioskop Odeon di Kompleks Pasar Atom, Bioskop Wijaya di Jalan Bubutan, Bioskop Purnama di Jalan Dinoyo, dan Bioskop Mitra di Jalan Yos Sudarso Surabaya. (gun/nur/jay)
Editor : Jay Wijayanto