Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sejarah Kampung Made dari Hikayat Komandan TRI I Made Suganda

Fajar Yuliyanto • Senin, 7 Agustus 2023 | 20:47 WIB
Photo
Photo

SURABAYA - Awalnya kampung ini bernama Dukuh Ngemplak, yang berada jauh di sisi barat Surabaya. Saat itu terdapat seorang pejuang kemerdekaan berdarah Bali bernama I Made Suganda dan sebagai pemimpin kompi Tentara Republik Indonesia.

Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan menjelaskan, pada masa perjuangan melawan Belanda tersebut, I Made Suganda bersama pasukannya menjadikan Dukuh Ngemplak sebagai basis pertahanan sekaligus markas untuk persembunyian. Namun ia tak sendirian, selain bersama kompi pasukannya juga dibantu warga Ngemplak dalam melaksanakan tugas menjaga kedaulatan bangsa.

Kemudian tempat I Made Suganda bertugas, tepatnya di sisi barat Dukuh Ngemplak diberi nama kampung Made. Pemberian nama tersebut sebagai penghormatan atas jasa-jasanya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah Belanda," kata Wawan, sapaan akrabnya.

Menurutnya, dari cerita warga, konon sebagian pasukan I Made Suganda yang berasal dari Bali tetap tinggal di sekitar Dukuh Ngemplak dan mereka membaur serta bermukim di sana. Kisah kuno Kampung Made juga tak lepas dari sosok Singojoyo.

Mbah Singojoyo dianggap oleh warga setempat sebagai penguasa sekaligus tokoh yang babad alas Kampung Made, Dukuh Ngemplak, Sambikerep dan sekitarnya.

Salah satu bukti peninggalan Mbah Singojoyo berupa punden, di tempat ini setahun sekali diselenggarakan tradisi bersih desa. Seluruh warga Kampung Made akan berbondong-bondong ke punden Singojoyo untuk doa bersama sembari membawa tumpeng.

Tradisi lainnya yang masih lestari di kampung Made ialah Okol. Istilah okol disini bukan panco melainkan kanuragan tradisional sejenis gulat. Dua jawara akan naik keatas panggung untuk adu kekuatan, siapa yang lebih banyak jatuh dianggap kalah.

"Menurut sesepuh kampung tradisi okol sudah ada sejak jaman wali. Dahulu okol dilaksanakan saat puncak musim kemarau, kini okol hanya digelar bersamaan dengan sedekah bumi," tuturnya. (jar/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#pegiat sejarah #sejarah kampung bali #sejarah Surabaya